Wisatawan Mancanegara Ikut Tampil! BEC 2026 Jadi Ajang Interaksi Budaya Dunia
Gelaran tahunan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 berlangsung meriah dan penuh warna pada Sabtu (18/7/2026). Mengusung tema megah "Perang Bayu – The Great War of Blambangan", parade budaya yang kini memasuki usahanya yang ke-14 tersebut tak hanya memukau ribuan warga lokal, tetapi juga menjadi panggung interaksi budaya tingkat dunia.
Ratusan talent tampil memesona mengenakan kostum etnik spektakuler yang memadukan keindahan seni, desain artistik, dan narasi sejarah. Menyusuri rute sejauh dua kilometer dari Taman Blambangan hingga Jalan A. Yani, setiap langkah para peserta disambut sorak-sorai dan tepuk tangan meriah dari penonton yang memadati jalur karnaval sejak pagi hari.
Ada yang istimewa dari gelaran BEC tahun ini. Sebanyak 17 wisatawan mancanegara turut ambil bagian secara langsung sebagai talent parade. Berasal dari sepuluh negara—seperti Inggris, Belanda, Amerika Serikat, Australia, Swedia, Belgia, Slovakia, Sudan, hingga Pakistan—kehadiran para bule ini mentransformasi BEC dari sekadar pertunjukan lokal menjadi ajang diplomasi budaya global.
Memakai kostum megah yang terinspirasi dari semangat perjuangan rakyat Blambangan melawan kolonialisme Belanda abad ke-18, para peserta asing mengaku sangat terkesan.
"Tiga hari yang sangat berkesan di Banyuwangi. Ini pertama kalinya saya ikut serta dalam acara karnaval, sebuah pengalaman sekali seumur hidup yang luar biasa. Saya tahu informasi open recruitment dari media sosial saat berada di Lombok dan langsung memutuskan terbang ke sini. Mulai dari mengunjungi Taman Gandrung Terakota hingga Pulau Bedil, semuanya menyenangkan" ujar Mellisa Curtis, wisatawan asal Inggris.
Ratusan talent tampil memesona mengenakan kostum etnik spektakuler yang memadukan keindahan seni, desain artistik, dan narasi sejarah. Menyusuri rute sejauh dua kilometer dari Taman Blambangan hingga Jalan A. Yani, setiap langkah para peserta disambut sorak-sorai dan tepuk tangan meriah dari penonton yang memadati jalur karnaval sejak pagi hari.
Ada yang istimewa dari gelaran BEC tahun ini. Sebanyak 17 wisatawan mancanegara turut ambil bagian secara langsung sebagai talent parade. Berasal dari sepuluh negara—seperti Inggris, Belanda, Amerika Serikat, Australia, Swedia, Belgia, Slovakia, Sudan, hingga Pakistan—kehadiran para bule ini mentransformasi BEC dari sekadar pertunjukan lokal menjadi ajang diplomasi budaya global.
Memakai kostum megah yang terinspirasi dari semangat perjuangan rakyat Blambangan melawan kolonialisme Belanda abad ke-18, para peserta asing mengaku sangat terkesan.
"Tiga hari yang sangat berkesan di Banyuwangi. Ini pertama kalinya saya ikut serta dalam acara karnaval, sebuah pengalaman sekali seumur hidup yang luar biasa. Saya tahu informasi open recruitment dari media sosial saat berada di Lombok dan langsung memutuskan terbang ke sini. Mulai dari mengunjungi Taman Gandrung Terakota hingga Pulau Bedil, semuanya menyenangkan" ujar Mellisa Curtis, wisatawan asal Inggris.
Tema Perang Bayu yang diusung tahun ini membawa pesan historis yang kuat. Peristiwa ini merupakan simpul sejarah penting bertahannya masyarakat Banyuwangi dalam melawan penjajahan Belanda, yang sekaligus menjadi tonggak sejarah berdirinya Kabupaten Banyuwangi.
Meskipun parade baru resmi dimulai pukul 13.00 WIB, ribuan warga rela berpanas-panasan berjam-jam demi mengamankan posisi terbaik. Keberhasilan BEC 2026 membuktikan bahwa inovasi dalam pengemasan budaya lokal tidak hanya mampu menjaga identitas sejarah daerah, tetapi juga memiliki daya pikat tinggi untuk menarik perhatian wisatawan nusantara maupun manca negara.
Meskipun parade baru resmi dimulai pukul 13.00 WIB, ribuan warga rela berpanas-panasan berjam-jam demi mengamankan posisi terbaik. Keberhasilan BEC 2026 membuktikan bahwa inovasi dalam pengemasan budaya lokal tidak hanya mampu menjaga identitas sejarah daerah, tetapi juga memiliki daya pikat tinggi untuk menarik perhatian wisatawan nusantara maupun manca negara.

