Wisatawan Belanda Rasakan Adrenalin Jaranan di Pameran Bajoewangi Tempo Doeloe
Pameran budaya dan sejarah Bajoewangi Tempo Doeloe memasuki hari ketiga dengan suguhan yang membuat ribuan pengunjung menahan napas pada Kamis siang (24/09/2025). Panggung acara dimeriahkan oleh atraksi Barong Osing yang meriah dan penuh keseruan. Pertunjukan ini sukses menyedot perhatian masyarakat, termasuk wisatawan asing.
Puncak keseruan dari kesenian tersebut adalah sesi Jaranan di mana penari yang sedang trance (kesurupan) menerima cambukan sebagai bagian dari atraksi. Di tengah sorak-sorai penonton, seorang wisatawan asal Belanda bernama Ronan ditunjuk oleh untuk ikut mencambuk. Ronan kemudian mengambil pecut dan dengan arahan singkat, ia mulai mencambuk lengan penari.
Keterlibatan Ronan seketika menjadi bintang panggung. Setelah sesi yang mendebarkan itu, ia mengungkapkan perasaannya yang campur aduk. "Awalnya, harus saya akui, ada rasa takut melihat adegan cambuk di depan mata, namun hal ini juga sangat menarik," ujar Ronan. Namun, pengalaman itu justru membuatnya merasa sangat beruntung. "Saya merasa sangat bahagia dan beruntung dapat melihat pameran, belajar tentang sejarah Banyuwangi, dan lebih dari itu, bisa berpartisipasi langsung dalam kesenian ini," imbuhnya.
Sebelum Jaranan memanas, pertunjukan dibuka dengan kemegahan Barong Kemiren, simbol budaya Osing yang kaya filosofi. Kesuksesan penampilan Barong Osing memikat penonton, termasuk dari mancanegara, membuktikan kuatnya daya pikat kesenian lokal. Pameran Bajoewangi Tempo Doeloe pum berhasil menjadi "ruang bagi kesenian" ini untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Kisah Ronan menjadi simbol suksesnya upaya pelestarian budaya. Ini menunjukkan bahwa ketika seni tradisional disajikan di ruang publik yang strategis, ia dapat memecah sekat-sekat budaya, mengundang partisipasi aktif, dan menjadikan Banyuwangi sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman budaya yang benar-benar otentik dan tak terlupakan.

