Unik! Ribuan Kasur Merah-Hitam Dijemur Massal di Desa Kemiren Banyuwangi
Setiap memasuki bulan Dzulhijjah, warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi menggelar tradisi unik yang sudah diwariskan secara turun-temurun, yakni Mepe Kasur atau menjemur kasur. Tradisi ikonik suku Osing ini menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian ritual adat bersih desa yang dilaksanakan setiap tahun dalam menyambut bulan haji.
Sejak pagi hari, ribuan kasur berwarna merah dan hitam tampak dijemur secara serempak di depan rumah-rumah warga di sepanjang jalan desa. Pemandangan kasur yang seragam ini menjadi daya tarik khas yang hanya bisa ditemui setahun sekali saat ritual ini berlangsung. Warga dari berbagai usia tampak kompak membersihkan kasur mereka dengan cara memukulnya menggunakan penebah dari rotan agar debu yang menempel hilang.
Bagi masyarakat lokal, pemilihan warna kasur yang seragam tersebut ternyata memiliki filosofi mendalam. Menurut salah satu warga Desa Kemiren, Mbah Pi'i, kombinasi warna merah dan hitam yang digunakan pada kasur bukan sekadar pilihan estetika semata, melainkan ada doa dan harapan di dalamnya.
“Merah melambangkan keberanian, sedangkan hitam berarti kelanggengan. Ini jadi simbol bahwa dalam rumah tangga, kita harus berani dan langgeng dalam menjalaninya,” ungkap Mbah Pi'i.
Ketua Adat Kemiren, Suhaimi, menjelaskan bahwa bagi masyarakat Osing, kasur dianggap sebagai benda yang paling dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari sehingga wajib dibersihkan secara ritual. Prosesi penjemuran ini juga tidak dilakukan sembarangan, melainkan diatur oleh waktu dan disertai dengan ritual khusus demi keselamatan warga.
“Menjemur kasur dimulai sejak matahari terbit hingga menjelang tengah hari. Saat menjemur, warga membaca doa dan memercikkan air bunga di halaman rumah, tujuannya agar dijauhkan dari bencana dan penyakit,” jelas Suhaimi secara detail mengenai prosesi tersebut.
Uniknya, seluruh kasur yang dijemur harus segera dimasukkan kembali ke dalam rumah sebelum matahari terbenam atau menjelang sore. Jika aturan adat ini dilanggar, masyarakat percaya bahwa khasiat spiritual kasur tersebut untuk menangkal penyakit dan membawa berkah di dalam rumah akan hilang.
“Kalau sampai sore ya nanti khasiatnya menurun. Apalagi kalau kemalaman. Bisa ndak sehat,” tambah Suhaimi.
Selain warna dan waktu penjemuran, ketebalan kasur gantung ini ternyata juga memiliki makna tersendiri dalam status sosial. Semakin tebal kasur, menunjukkan bahwa pemiliknya termasuk orang yang berada di desa tersebut. Menariknya, setiap pasangan yang baru menikah akan selalu mendapatkan kasur baru jenis ini dari orang tuanya sebagai simbol ikatan keluarga.
Ritual Mepe Kasur ini sekaligus menjadi pembuka dari rangkaian besar festival adat Tumpeng Sewu yang berlangsung meriah selama dua hari berturut-turut pada 21-22 Mei 2026. Setelah prosesi menjemur kasur selesai pada siang hari, warga dan wisatawan langsung dihibur dengan kesenian Kuntulan, yang kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan Barong keliling desa pada sore harinya dan pada malamnya selamatan Tumpeng Sewu dan dilanjutkan Mocoan Lontar Yusuf.
Memasuki malam kedua, atmosfer budaya di Desa Kemiren semakin kental dengan digelarnya kesenian Gandrung Terob di Balai Desa Kemiren. Tidak hanya itu, di rumah Barong Tresno Budoyo.
Tradisi Mepe Kasur dan Tumpeng Sewu ini membuktikan bahwa masyarakat Osing tidak hanya menjaga kebersihan lahir dan batin, tetapi juga sukses merawat kebersamaan antarwarga.

