Ungkap Rasa Syukur, Masyarakat Alasmalang Banyuwangi Gelar Kebo-Keboan Ritual Kebo-Keboan Alasmalang
nasional Dinas Kebudayaan & Pariwisata Banyuwangi

Ungkap Rasa Syukur, Masyarakat Alasmalang Banyuwangi Gelar Kebo-Keboan

312x Dilihat

Ritual adat Kebo-keboan kembali digelar oleh masyarakat Desa Alasmalang pada Minggu siang (21/7/2024). Agenda tahunan ini menjadi momen yang selalu ditunggu tak hanya oleh masyarakat setempat, tetapi juga Banyuwangi pada umumnya.

 

Sejak kemarin, warga telah memasang ornamen-ornamen bernuansa hasil panen di seluruh jalanan desa. Pentas acara berada tepat di perempatan balai adat yang terletak di Dusun Krajan. Seluruh masyarakat desa pun, tumpah ruah di momen sakral tesebut. 

 

“Ritual Kebo-keboan bagi masyarakat Alasmalang merupakan perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkahnya sehingga kami dapat menjalankan aktifitas dengan rukun dan damai, juga merupakan wujud sedekah bumi,” ucap Santo ketua panitia. 

 

Ritual ini sekaligus menjadi pengingat bagi warga untuk tetap menjaga alam. Sebagaimana diketahui, mayoritas penduduk desa berprofesi sebagai petani. Mereka sangat bergantung dengan kondisi alam untuk dapat menghasilkan panen yang maksimal. Diharapkan, hubungan manusia dengan alam dan seisinya dapat berjalan harmonis dalam waktu yang panjang

 

Acara diawali dengan syukuran dan makan bersama di persimpangan jalan desa. Sebanyak dua belas tumpeng, lima porsi jenang sengkolo dan tuuh porsi jenang suro disajikan sebagai simbol waktu perputaran kehidupan manusia. Kemdian dengan dipandu ketua adat, puluhan manusia kerbau diarak mengelilingi keempat penjuru mata angin dengan iringan musik khas Suku Osing. 

 

Melalui sambungan online, Bupati Banyuwangi, Ipuk Festiandani Azwar Anas menyampaikan bahwa ritual ini mengandung makna yang sangat baik. Oleh karenanya, Pemkab sangat mendukung dan terus mempromosikan kegiatan budaya yang hidup di tengah masyarakat. 

 

“Atas nama Pemkab, kami sangat mendukung semua kegiatan masyarakat. Pemkab berkomitmen mendukung dan mempromosikan berbagai kegiatan budaya. Semoga dengan ritual ini, hajat kita dapat dikabulkan Tuhan,” kata Ipuk. 

 

Ritual ini diakhiri dengan prosesi membajak sawah dan menabur benih padi oleh manusia kerbau. Benih padi tersebut diperebutkan oleh warga karena diyakini ditabur oleh Dewi Sri sehingga akan menghasilkan panen yang berlimpah. Selain sebagai ucapan syukur, ritual ini juga merupakan bentuk gotong royong dan keakraban warga.