Tradisi Pencak Sumping, Seni Bela Diri Kuno yang Masih Eksis di Banyuwangi
lokal Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kab. Banyuwangi

Tradisi Pencak Sumping, Seni Bela Diri Kuno yang Masih Eksis di Banyuwangi

Banyuwangi memiliki segudang tradisi seni dan budaya. Namun, Kabupaten paling ujung Timur Pulau Jawa ini juga memiliki tradisi seni bela diri yakni Pencak Sumping. Tradisi ini dilestarikan lintas generasi. Setiap Hari Raya Idul Adha, Masyarakat Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kec. Glagah, Banyuwangi ini menampilkan atraksi Pencak Sumping. (10/07). Atraksi Pencak Sumping digelar dengan iringan musik tradisional dengan irama yang rancak. Penampilan Pencak Sumping diikuti oleh para pendekar mulai anak-anak hingga lanjut usia. Mereka menampilkan jurus-jurus silat, baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata dengan lincah. Tradisi Pencak Sumping tidak terlepas dari cerita asal muasal Dusun Mondoluko. Di zaman penjajahan Belanda, Buyut Ido terluka (luko) sampai terkoyak (modol-modol), hingga akhirnya mendasari penamaan dari Dusun Mondoluko. Mulai anak-anak hingga dewasa baik laki-laki maupun perempuan. Hingga saat ini Warga Mondoluko tetap melestarikan pencak silat sebagai bela diri yang di pelajari oleh warga. Salah satu pelestari Pencak Sumping, Rayis mengungkapkan, nama Pencak Sumping sendiri, diambil dari suguhan yang disajikan pada jaman itu yang mengiringi para pendekar saat berlatih. "Sumping merupakan makanan tradisional yang terbuat dari pisang berbalut adonan tepung yang dikukus, didaerah lain dikenal dengan nama kue Nagasari." kata Rayis Sumping menjadi suguhan kepada para tamu yang datang saat acara. Bahkan saat atraksi tanding dua pendekar silat, sumping juga digunakan untuk pengakuan kemenangan. "Biasanya pendekar yang menang akan menyumpal mulut lawan yang kalah dengan kue sumping." imbuh Rayis.

Tinggalkan komentar