Spirit Kebhinekaan Penuhi Malam Puncak Festival Kebangsaan Selametan Bumi Suku Papua sedang menuang tanah dalam wadah
nasional Dinas Kebudayaan & Pariwisata Banyuwangi

Spirit Kebhinekaan Penuhi Malam Puncak Festival Kebangsaan Selametan Bumi

368x Dilihat

Suasana semarak hiasi malam puncak Festival Kebangsaan Selametan Bumi di Gesibu Blambangan pada Sabtu malam (18/11). 

 

Sebelumnya, serangkaian acara telah digelar di Kelurahan Kampung Mandar yang menjadi tuan rumah selametan bumi tahun ini. Acara tersebut meliputi Tradisi Saulak Suku Mandar, pawai budaya, serta workshop adat nusantara. Acara malam itu dibuka dengan doa kebangsaan yang dipimpin oleh enam pemuka agama.

 

Doa lintas agama yang dipanjatkan merupakan poin penting dalam selamatan kali ini. Lantunan doa-doa tersebut merupakan tanda serta pengingat sikap toleransi masyarakat Banyuwangi.

 

Festival Kebangsaan Selamatan Bumi juga turut mengadirkan muhibah budaya dari Pulau Bali. Kali ini, Sanggar Seni Arsa Wijaya dari Kabupaten Jembrana mendapat kehormatan sebagai pengisi pentas seni. Mereka membawakan garapan Fragmentasi Balaganjur Kreasi dengan judul Kebo Iwa.

 

Festival Kebangsaan Selametan Bumi yang diadakan setiap tahun memang menitik beratkan konsep kebhinekaan. Betapa tidak, seluruh kelompok agama, suku maupun sub suku membaur tanpa batas dalam festival ini. 

 

Maka dari itu, dalam momen tersebut secara simbolis dikumpulkan sembilan tanah dari wilayah masing-masing suku di Banyuwangi untuk dilebur jadi satu.

 

“Malam ini merupakan sebuah perwujudan bahwa Banyuwangi adalah miniatur Indonesia. Makna selametan pada malam ini adalah ingin memberikan ikatan pada seluruh suku dengan tanah yang dikumpulkan tadi sehingga akan tercipta ikatan persaudaraan,” papar Mohammad Lutfi, Kepala Kesbangpol Banyuwangi.

 

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Banyuwangi Ipuk Festiandani Azwar Anas hadir secara langsung dan menyampaikan apresiasinya terhadap semua pihak yang terlibat dalam menyukseskan festival.

 

“Saya berharap dengan adanya festival ini kita dapat menjadikan perbedaan menjadi satu kekuatan. Dengan perbedaan yang cukup banyak, masyarakat mampu membangun Banyuwangi karena memiliki semangat gotong royong dan toleransi yang tinggi. Semoga festival ini bukan hanya seremonial tetapi dapat menjadi sarana edukasi untuk memahami konsep kebhinekaan agar Banyuwangi jauh dari praktek intoleransi,” ungkap Ipuk.

 

Sebagai tuan rumah acara, Suku Mandar banyak memberikan suguhan budaya seperti musik, tarian, dan kuliner. Kendati merupakan pendatang, Suku Mandar di Banyuwangi mampu hidup berdampingan dengan kelompok masyarakat lain dan tetap melestarikan tradisi nenek moyang mereka. Hingga kini, suku yang terkenal akan kehebatan maritimnya itu menjadi penyumbang keanekaragaman budaya di Banyuwangi.