Sambut Pergantian Tahun, Millenal di Banyuwangi Lantunkan Babad Tawangalun Berbagai Budaya
lokal Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kab. Banyuwangi

Sambut Pergantian Tahun, Millenal di Banyuwangi Lantunkan Babad Tawangalun Berbagai Budaya

Ada berbagai macam cara melakukan kegiatan dalam menyambut pergantian tahun. Begitu pula dengan kelompok millenial di Banyuwangi ini bergerak dan bermanfaat dalam menyambut pergantian tahun. Banyuwangi Youth Creative Network (BYCN) beserta beberapa orang seniman, budayawan, dan pelestari naskah kuno menggelar kegiatan pelantunan babad Tawangalun dengan lintas budaya di Pendopo Pelinggihan Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi. (30/12).

Berbagai macam budaya berkumpul dalam melantunkan babad Tawangalun. Seperti di Banyuwangi, tradisi melantunkan suatu tembang disebut Mocoan, di Madura disebut Mamaca, di Jawa disebut Mocopatan, di Bali disebut Mabasa. Salah satu peserta, Fitri Handayani mengungkapkan rasa bangga terhadap para millenial yang sedang mengikugi kegiatan ini. Dia merasa kegiatan seperti ini merupakan bentuk pelestarian. "Saya harap, dengan adanya kegiatan ini, akan banyak kalangan muda yang tertarik untuk mempelajari mocoan atau semacamnya, khususnya babad Tawangalun ini." ungkapnya Fitri. Acara yang dibingkai tema 'merajut kebhinekaan dalam bingkai manuskrip kuno' ini diikuti 40-an orang dari kelompok penembang.

Pegiat pelestari naskah kuno, Wiwin Indiarti, menjelaskan, tradisi pelantunan tembang naskah kuno ini sesuai tradisi lokal budaya di masing-masing daerah. "Di Banyuwangi, dalam menyebut naskah kuno adalah lontar. Jadi, bukan berarti naskahnya tertulis di daun lontar," kata Wiwin. Kepala Bidang Kebudayaan, Dewa Alit Budianto menyampaikan kegiatan yang dilakukan kelompok pelestari naskah kuno ini sangat luar biasa. "Ini merupakan kontribusi bagi pemajuan kebudayaan di Banyuwangi yang dilakukan oleh para millenial". pungkas Dewa Alit. Para millenial merupakan tonggak harapan sebagai pelestari dalam kegiatan pelantunan naskah kuno. Hal ini menjadi sorotan, dimana para millenial di Banyuwangi memilih untuk melestarikan budaya ditengah era globalisasi yang sangat massal.

Tinggalkan komentar