Ritual Barong Ider Bumi Kemiren, Ikhtiar Menolak Bala di Hari Kedua Lebaran
Suasana khidmat menyelimuti Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tepat pada hari kedua Lebaran, Minggu (22/3/2026). Ribuan warga serta wisatawan tampak memadati jalanan desa untuk menyaksikan ritual Barong Ider Bumi, sebuah tradisi turun-temurun Suku Osing yang digelar sebagai bentuk ikhtiar menolak bala sekaligus ungkapan rasa syukur.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan manifestasi spiritual yang telah mendarah daging bagi masyarakat setempat. Sejak pagi hari, antusiasme pengunjung sudah terlihat dari penuhnya ruas jalan utama desa. Bagi warga Kemiren, kehadiran Barong dipercaya sebagai simbol perlindungan yang menjaga harmoni kehidupan mereka selama ratusan tahun dari berbagai ancaman.
Tokoh masyarakat adat Desa Kemiren, Suhaimi, menjelaskan bahwa akar sejarah Barong Ider Bumi bermula sejak medio 1840-an. Saat itu, Desa Kemiren berada dalam kondisi mencekam akibat serangan wabah penyakit mematikan dan gagal panen massal karena hama. Banyaknya warga yang meninggal dunia secara mendadak menciptakan trauma mendalam bagi komunitas tersebut.
"Kala itu terjadi masa paceklik yang sangat panjang. Sesepuh desa kemudian meminta petunjuk kepada Mbah Buyut Cili, leluhur kami. Melalui pencerahan dalam mimpi, warga diminta mengarak Barong berkeliling desa untuk mengusir segala bentuk kemalangan yang melanda," ujar Suhaimi.
Dalam kepercayaan masyarakat Osing, Barong yang memiliki ciri khas mahkota dan sayap megah dianggap sebagai entitas penjaga. Oleh sebab itu, sebelum arak-arakan dimulai, para tetua adat terlebih dahulu melakukan prosesi ziarah dan doa bersama di petilasan Buyut Cili. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan permohonan restu agar ritual berjalan lancar.
Hadir dalam acara tersebut, Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Hartono, mengapresiasi keberlanjutan tradisi ini. Ia menyebut Barong Ider Bumi telah resmi masuk dalam kalender Banyuwangi Attraction 2026. Pemerintah daerah melihat tradisi ini memiliki nilai jual tinggi sebagai magnet wisata budaya berskala nasional.
"Kami berterima kasih kepada masyarakat yang terus menjaga semangat gotong royong. Acara ini terbukti konsisten menarik minat wisatawan luar daerah untuk berkunjung ke Banyuwangi setiap momen libur Lebaran," tutur Hartono.
Puncak keriuhan terjadi saat arak-arakan mulai bergerak menempuh jarak sekitar 2 kilometer dari sisi timur hingga barat desa. Sepanjang rute, tokoh adat melakukan tradisi sembur uthik-uthik, yakni menebarkan koin logam yang dicampur beras kuning dan aneka bunga. Aksi ini kerap menjadi momen yang paling ditunggu, karena warga percaya koin tersebut merupakan simbol untuk membuang kesialan.
Sebagai penutup rangkaian ritual, warga menggelar selamatan masal dengan menyajikan Tumpeng Pecel Pitik, kuliner wajib dalam setiap perayaan sakral di Kemiren. Aroma ayam kampung panggang yang dipadu bumbu parutan kelapa pedas menjadi simbol penutup yang manis, mempererat tali persaudaraan antarwarga sekaligus mengukuhkan janji untuk terus menjaga warisan leluhur.

