Ribuan Penari Getarkan Panggung Gandrung dari Masa ke Masa 2025
Festival Tari Gandrung dari Masa ke Masa kembali diselenggarakan. Acara yang digelar di Gelanggang Seni Budaya (Gesibu) Blambangan pada Rabu (24/12/2025) ini berhasil menyedot perhatian ribuan pasang mata yang memadati area ikonik tersebut sejak sore hari.
Kemeriahan festival tahun ini terasa sangat spesial karena melibatkan sedikitnya 1.278 peserta yang datang dari berbagai penjuru. Tidak hanya didominasi oleh penari lokal, peserta juga datang jauh-jauh dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan Bali. Kehadiran mereka seolah mengubah Gesibu Blambangan menjadi lautan manusia dengan balutan kostum merah-emas yang megah.
Ketua Penyelenggara Festival Tari Gandrung dari Masa ke Masa, Sabar Harianto, mengungkapkan rasa bangganya atas partisipasi peserta yang melampaui ekspektasi. Menurutnya, keterlibatan peserta dari luar kota seperti Jakarta, Surabaya, Malang, Lumajang, Situbondo, hingga Bali menunjukkan bahwa daya tarik Tari Gandrung telah menembus batas wilayah.
"Festival ini bukan sekadar perlombaan, melainkan bukti nyata bahwa proses regenerasi Tari Gandrung terus berjalan dengan sangat baik. Kami melihat semangat yang sama dari anak-anak hingga remaja untuk tetap mencintai akar budaya mereka," tutur Sabar Harianto di sela-sela pembukaan acara.
Rangkaian festival dijadwalkan berlangsung selama tiga hari penuh, mulai dari tanggal 24 - 26 Desember 2025. Penyelenggara membagi kompetisi ke dalam dua kategori besar, yakni kategori tari gandrung tunggal yang menguji kemandirian penari, serta kategori tari kelompok yang menonjolkan kekompakan dan harmoni formasi di atas panggung.
Setiap peserta dituntut untuk memberikan performa terbaik di hadapan dewan juri yang sangat kompeten di bidangnya. Penilaian tidak hanya berfokus pada keluwesan gerak tubuh, tetapi juga memperhatikan ketepatan irama musik omprok yang mengiringi, serta keselarasan kostum yang dikenakan sesuai pakem tradisi.
Lebih dari sekadar ajang unjuk kebolehan, festival ini dirancang sebagai sarana edukasi dan promosi budaya kepada masyarakat luas. Melalui gelaran ini, Pemkab Banyuwangi ingin memastikan bahwa Gandrung tetap menjadi identitas yang relevan dan terus dikenal oleh wisatawan domestik maupun mancanegara yang sedang berkunjung.
Suasana di lokasi acara tampak begitu hidup dengan suara gamelan yang terus bersahut-sahutan. Para penari tampak mempersiapkan diri dengan serius di area belakang panggung, mulai dari memoles riasan wajah hingga memastikan atribut omprok (mahkota gandrung) terpasang dengan sempurna sebelum gilirannya tiba untuk tampil.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berharap festival ini dapat menjadi pemantik semangat bagi sanggar-sanggar tari untuk terus berkreasi tanpa meninggalkan nilai luhur sejarah. Semakin banyaknya ruang ekspresi seperti ini diharapkan dapat memperkuat posisi Banyuwangi sebagai salah satu pusat kebudayaan terkemuka di Indonesia.
Dengan semangat yang membara dari para peserta muda, Festival Tari Gandrung dari Masa ke Masa diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam pelestarian warisan budaya bangsa. Melalui gerak gemulai para penari, pesan tentang ketangguhan dan keindahan Banyuwangi diharapkan terus bergema hingga masa-masa yang akan datang.

