Rayakan Hari Tari Sedunia 2026, Belasan Sanggar Unjuk Gigi di Bumi Blambangan
Semangat pelestarian budaya membuncah di Bumi Blambangan. Meski Hari Tari Sedunia jatuh pada 29 April, masyarakat Banyuwangi baru saja menggelar selebrasi megah pada hari ini, Minggu (3/5/2026). Momentum ini menjadi panggung spesial bagi para penari lokal, khususnya komunitas Jiwa Etnik Blambangan (JEB).
Perayaan tahun ini terasa sangat semarak karena JEB tidak tampil sendirian. Mereka menggandeng kolaborasi apik dengan 14 sanggar tari dari berbagai wilayah, dua di antaranya berasal dari Pasuruan dan Surabaya. Sinergi ini menciptakan sebuah pertunjukan kolosal yang memukau mata para penonton yang memadati lokasi acara.
Pantauan di lokasi, para peserta menampilkan deretan tari tradisional yang unik dan sarat akan makna filosofis. Gerakan gemulai namun bertenaga dari para penari seolah bercerita tentang kekayaan sejarah dan spiritualitas yang tertanam kuat dalam setiap jengkal tanah Banyuwangi melalui koreografi yang apik.
Semangat dan antusiasme penari yang didominasi usia pelajar terpancar cerah saat membawakan tarian elok di atas panggung. Penampilan mereka menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat di wilayah Singojuruh dan sekitarnya yang datang berbondong-bondong untuk menyaksikan atraksi seni tersebut sejak pagi hari.
Gelaran tahun ini mengusung tema yang cukup mendalam, yakni "Mencorong Sunare". Tema ini merepresentasikan harapan agar cahaya seni tari tradisional tetap bersinar terang dan memberikan dampak positif bagi identitas kebudayaan generasi muda di masa depan agar tidak lekang oleh zaman.
Menariknya, para penari yang unjuk gigi tidak hanya datang dari sanggar-sanggar di wilayah Singojuruh saja. Banyak peserta yang berasal dari luar wilayah tersebut, membuktikan bahwa geliat seni tari tradisional masih sangat diminati oleh berbagai kalangan di seluruh penjuru Banyuwangi hingga luar kota.
Kegiatan ini juga menjadi ajang apresiasi bagi para seniman maestro yang telah mendedikasikan hidupnya melestarikan kebudayaan Banyuwangi. Piagam penghargaan diberikan kepada Mbah Yokanah (Maestro Mocoan Lontar), Mbah Awik Badut (Maestro Angklung Caruk), serta Mbah Misadi dan Khotib (Maestro Kendang Barong Prejeng).
Ketua Penyelenggara Festival Hari Tari Sedunia 2026, Adlin, mengungkapkan bahwa acara ini dirancang lebih dari sekadar pertunjukan rutin tahunan. Menurutnya, event ini merupakan wadah penting untuk menjaga eksistensi seniman lokal di tengah gempuran budaya modern.
"Acara ini tidak hanya sebagai wadah seniman menuangkan kreativitas, tapi juga menjadi momen silaturahmi bagi para pegiat seni, khususnya seni tari tradisional di Banyuwangi," ujar Adlin saat ditemui di sela-sela acara, Minggu (3/5/2026).
Adlin menambahkan, pihaknya berkomitmen menghidupkan kembali warisan budaya lama yang tersimpan di Banyuwangi.
"Warisan para maestro kita baca ulang. Ternyata karya mereka luar biasa dan masih sangat relevan untuk dipentaskan saat ini," pungkasnya.

