Potensi Kopi Banyuwangi Pikat Akademisi Mancanegara  Summer Course of Coffee di Gombengsari
nasional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Potensi Kopi Banyuwangi Pikat Akademisi Mancanegara 

114x Dilihat

Kekayaan komoditas kopi dan warisan budaya Banyuwangi berhasil menarik perhatian akademisi internasional. Melalui agenda Summer Course of Coffee: From the Bean to the Cup and Culture yang diselenggarakan oleh Universitas Jember, Banyuwangi dipilih menjadi lokasi kunjungan studi delegasi mancanegara. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara dunia akademik dan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi perkebunan kopi berbasis kearifan lokal. 

 

Kepala LP2M Universitas Jember, Prof. Dr. Yuli Witono, S.TP., M.P., menegaskan bahwa dipilihnya Banyuwangi dalam agenda internasional ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, lanskap industri kopi di Tanah Blambangan memiliki keunikan tersendiri, "Banyuwangi menjadi salah satu lokasi penting kegiatan ini karena industri kopi di Banyuwangi sangat menarik. Ketika kita berbicara mengenai kopi, isu yang diangkat bukan hanya varietas tetapi juga budaya yang ada di dalamnya. Menurut saya, Banyuwangi merupakan lokasi yang sangat pas untuk mempelajari hal tersebut," terang Prof. Yuli Witono(19/08/2026).

 

Apresiasi juga datang dari Prof. Tonya Kuhl dari University of California, Davis, Amerika Serikat. Ia mengaku sangat terkesan dengan harmonisasi antara komoditas perkebunan dan sektor pariwisata yang dikembangkan secara berkelanjutan oleh masyarakat lokal. "Saya sangat senang dapat berkunjung ke Banyuwangi dan kagum dengan bagaimana kopi tak hanya menjadi komoditas, tetapi juga menyatu dengan budaya, bahkan kini menjadi daya tarik wisata yang edukatif," tutur Prof. Tonya Kuhl.

 

Eksplorasi para peserta Summer Course berlangsung intensif di Desa Gombengsari, salah satu pusat penghasil kopi berkualitas di Kabupaten Banyuwangi. Di lokasi ini, para peserta tidak hanya menyerap teori, melainkan mendalami seluruh rantai produksi kopi secara langsung dari hulu hingga hilir. Rangkaian pengalaman lapangan tersebut mencakup pengenalan varietas tanaman kopi di kebun, praktik teknik pemanenan petik merah, pengamatan proses pengolahan pascapanen, hingga cara penyajian kopi tradisional khas warga lokal.

 

Pengalaman holistik ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi para peserta internasional. Moemi Noda, mahasiswa asal Osaka University, Jepang, mengungkapkan kegembiraannya selama mengikuti kegiatan di Banyuwangi. "Saya benar-benar menikmati perjalanan ini dan mendapat pengalaman yang sangat menyenangkan, mulai dari belajar menari, serta mendengarkan penjelasan tentang kopi. Saya benar-benar mendapatkan pengalaman yang luar biasa," ujar Moemi.

 

Kegiatan akademis ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik Banyuwangi di mata dunia internasional. Kota di ujung timur Pulau Jawa ini membuktikan bahwa potensi daerahnya tidak sekadar unggul pada sektor pertanian dan pariwisata, tetapi juga mampu hadir sebagai ruang belajar bagi para akademisi baik nasional maupun internasional. Perpaduan antara cita rasa kopi yang khas, kearifan lokal, dan komitmen budaya menjadikan Banyuwangi sebagai destinasi eduwisata unggulan yang diperhitungkan secara global.