Peringatan Maulid Nabi di Banyuwangi, dan Hangatnya Berbagi Lewat Tradisi Ancakan Ancakan Maulid Nabi di Desa Kemiren
nasional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Peringatan Maulid Nabi di Banyuwangi, dan Hangatnya Berbagi Lewat Tradisi Ancakan

116x Dilihat

Ratusan warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, tumpah ruah memperingati Maulid Nabi Muhammad 1448 Hijriah dengan menggelar tradisi Ancakan dan Endog-Endogan di Masjid Nurul Huda, Selasa (25/8/2026).

Sejak pagi hari, masyarakat dari berbagai penjuru desa adat Osing tersebut sudah tampak berbondong-bondong berjalan kaki menuju serambi masjid.

Langkah kaki warga diiringi dengan pikulan dan jinjingan "ancak", wadah makanan tradisional berbahan pelepah serta daun pisang yang sarat dengan hidangan nasi lengkap beserta aneka lauk-pauk.

Kemeriahan semakin terpancar dari hiasan bunga telur atau yang akrab disapa "endog-endogan", yakni telur rebus yang ditancapkan pada bilah bambu berhias kertas aneka warna.

Setibanya di Masjid Nurul Huda, barisan ancak dan pohon hias endog-endogan langsung ditata rapi di area pelataran serta teras utama sebelum acara dimulai.

Suasana peringatan maulid pun berubah menjadi khidmat saat lantunan selawat dan pembacaan barzanji menggema syahdu di Masjid tersebut.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh tokoh agama mengenai keteladanan budi pekerti dan akhlak mulia Nabi Muhammad.

Para jemaah yang memadati masjid tampak khusyuk menyimak setiap wejangan, meresapi pesan moral untuk memperkuat ukhuwah islamiah dan kepedulian antarsesama.

Salah seorang warga Desa Kemiren, Mohammad Edy Saputro, mengaku sangat bersyukur dapat kembali merayakan kelahiran Rasulullah bersama masyarakat luas di tengah lestarinya tradisi leluhur.

"Masih bersyukur bisa mengikuti Maulid Nabi Muhammad dengan tradisi Ancakan dan Endog-Endogan. Masyarakat sekitar sini juga sangat antusias dan guyub berbondong-bondong di Masjid," ujar Edy.

Tradisi Ancakan dan Endog-Endogan memang masih terawat dengan sangat kuat di desa-desa Banyuwangi, menjadi identitas kultural yang tak terpisahkan dari momen maulid.

Bagi masyarakat setempat, Ancak bukan sekadar sajian kuliner istimewa yang dinanti setiap tahun, melainkan simbol perjumpaan sosial dan rasa syukur yang nyata.

Terdapat filosofi luhur yang dijunjung tinggi saat prosesi makan bersama dimulai, yakni aturan tak tertulis yang mengharuskan para warga untuk saling bertukar ancak.

Pemilik atau pembuat ancak tidak diperkenankan memakan hidangannya sendiri, melainkan harus menikmati masakan yang dibawa oleh tetangganya.

Praktik ini menjadi wujud solidaritas murni sekaligus kerelaan menerima rezeki, di mana setiap warga tetap menyantap hidangan yang didapat dengan penuh keikhlasan.

 

 

(yap)