Penuh Totalitas, Peserta BEC 2026 Padukan Megahnya Kostum dengan Drama Teatrikal di Sesi Penjurian Peserta BEC 2026
nasional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Penuh Totalitas, Peserta BEC 2026 Padukan Megahnya Kostum dengan Drama Teatrikal di Sesi Penjurian

116x Dilihat

Atmosfer magis dan semangat kepahlawanan menyelimuti Lorong Bambu Gesibu Blambangan pada Selasa siang (7/7/2026). Tempat ikonik tersebut menjadi saksi megahnya presentasi kostum dan penjurian Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. Agenda ini merupakan tahap penilaian krusial dari para dewan juri, sekaligus menjadi ajang pemanasan bagi 100 orang peserta sebelum menyajikan penampilan akbar mereka pada puncak karnaval di tanggal 18 Juli mendatang. 

 

Penyelenggaraan BEC tahun ini membawa pembaruan konsep yang signifikan dibanding edisi sebelumnya. Dengan mengangkat tema "Perang Bayu: The Great War of Blambangan", BEC dikemas secara teatrikal, dibalut oleh sendra tari yang dibawakan oleh sanggar seni. Selain itu, para peserta juga tidak lagi berjalan sendirian, melainkan didampingi oleh pemeran pendukung atau fragmen yang memperkuat karakter serta narasi kostum. Perubahan konsep ini pun sukses membuat penampilan peserta terasa lebih hidup, dinamis, dan dramatis.

 

Salah satu peserta yang memanfaatkan konsep baru tersebut adalah Robby Dharmawangsa, yang mengenakan kostum Rempeg Jogopati untuk sub-tema Pejuang Blambangan. Robby tampil penuh totalitas dengan menyisipkan drama singkat tentang gugurnya Rempeg Jogopati yang meneruskan kiprah perjuangan kepada Sayu Wiwit.

 

"Momen presentasi kostum tahun ini sangat mengesankan karena ada beberapa hal yang menjadi pembeda, di antaranya tiap talent diperbolehkan membawa penunjang penampilan seperti kereta karnaval dan pemeran pendukung, ini semakin menantang kreativitas tidak hanya utuk pembuatan kostum tetapi juga untuk performance," ujar Robby. 

 

Tak hanya para peserta, hawa kompetisi ini juga dirasakan oleh para desainer, salah satunya Mohammad Ali Imron atau yang akrab disapa Morint. Tahun ini, Morint menunjukkan produktivitas luar biasa dengan menggarap lima kostum untuk sub-tema Hasil Bumi, Alat dan Genderang Perang, VOC dan Sekutu, serta Situs Peran.

 

"Melihat presentasi hari ini, saya benar-benar takjub karena kostum para peserta tahun ini sangat keren dan luar biasa kompetitif. Hal ini jelas menjadi tantangan sekaligus memacu adrenalin saya sebagai desainer untuk menggali lebih dalam lagi kreativitas serta melahirkan inovasi baru dalam mendesain kostum," tutur Morint.

 

Catatan evaluasi dan masukan teknis dari dewan juri pada fase krusial ini menjadi modal penting bagi para peserta untuk menyempurnakan detail busana maupun riasan mereka. Publik kini menanti kejutan estetika yang lebih megah pada puncak parade 18 Juli mendatang. Melalui pembaruan konsep teatrikal yang matang, Banyuwangi Ethno Carnival 2026 siap melangkah dari panggung lokal menuju lanskap internasional, sejalan dengan semangat from local to global.