Pameran Banjoewangi Tempo Doeloe Hadirkan Peninggalan Sejarah hingga Upacara Sakral Banjoewangi Tempo Doeloe 2025
nasional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Banyuwangi

Pameran Banjoewangi Tempo Doeloe Hadirkan Peninggalan Sejarah hingga Upacara Sakral

264x Dilihat

Warga Banyuwangi dan sekitarnya kini dapat kembali merasakan nuansa masa lalu dalam gelaran Pameran Banjoewangi Tempo Doeloe. Berlangsung di halaman kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, pameran ini dijadwalkan selama tiga hari, mulai tanggal 23 hingga 25 September 2025.

 

Gelaran ini tak hanya menyajikan koleksi benda-benda purbakala, tapi juga berbagai pertunjukan seni dan diskusi budaya yang mengingatkan kita akan kekayaan warisan lokal.

 

Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Dewa Alit Siswanto menyampaikan, Pameran tahun ini memiliki daya tarik utama, yaitu koleksi peninggalan bersejarah dari berbagai museum desa.

 

"Ini merupakan sebuah langkah inovatif yang menghidupkan kembali peran museum-museum kecil sebagai penjaga sejarah di tingkat akar rumput. Pengunjung dapat melihat langsung bagaimana setiap desa memiliki cara unik untuk melestarikan identitas dan kisah masa lalunya," kata Dewa.

 

Salah satu yang paling menarik adalah kehadiran koleksi dari Museum Desa Gintangan yang terkenal dengan koleksi bambunya. Dari sana, pengunjung dapat beranjak ke Museum Desa Tembokrejo dan Museum Macan Putih yang secara khusus menyimpan peninggalan Kerajaan Blambangan. Keberadaan museum-museum ini menjadi bukti nyata kekayaan sejarah Blambangan yang masih bisa dinikmati hingga hari ini.

 

Selain itu, pameran ini juga menampilkan Museum Mandar yang memamerkan artefak dari Suku Mandar, salah satu suku yang memiliki peran penting dalam sejarah maritim Banyuwangi. Tak ketinggalan, ada juga Museum Uang Kuno dengan koleksi mata uang bersejarah yang membawa pengunjung menelusuri perkembangan ekonomi dan perdagangan di masa lalu.

 

"Tidak hanya peninggalan dari museum desa, pameran ini juga menampilkan koleksi berharga dari Museum Blambangan, serta batuan purba dari Unesco Global Geopark Ijen. Kehadiran koleksi Geopark Ijen menambah nilai edukasi pada pameran, memperkenalkan pengunjung pada warisan geologi yang membentuk lanskap Banyuwangi," imbuh Dewa.

 

Pameran ini tidak hanya statis, namun juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan diskusi budaya setiap harinya. Pada hari pertama, 23 September, acara dibuka dengan sesi edukasi "belajar bersama di museum" yang bertujuan mendekatkan generasi muda dengan sejarah. Malam harinya, pengunjung akan disuguhkan keindahan Tari Gandrung, tarian ikonik Banyuwangi yang memukau.

 

Pada hari kedua, 24 September, akan digelar seminar tentang kajian benda purbakala, sebuah acara penting bagi para akademisi dan peminat sejarah. Setelahnya, panggung akan diisi dengan beragam lagu dan tari tradisional yang dibawakan oleh seniman lokal. Acara hari itu juga akan diramaikan dengan penampilan spesial dari Himpunan Ilmu Kesastraan Indonesia.

 

Puncak acara pada hari terakhir, 25 September, akan ditandai dengan prosesi budaya yang sangat langka dan penuh makna: upacara pernikahan adat Mupus Braen dari Suku Osing. Ritual ini, yang secara khusus diadakan untuk pernikahan anak bungsu, menawarkan pemahaman mendalam tentang kearifan lokal. Pengunjung akan menyaksikan langsung keindahan busana, tata rias, dan tata cara pernikahan adat yang sakral.

 

Dalam prosesi tersebut, akan diberikan pula penghargaan kepada Subari Sofyan, sosok seniman yang berperan besar dalam merancang busana adat pengantin Banyuwangi. Busana adat pengantin sendiri memiliki beberapa macam, yaitu Mupus Braen Blambangan, Sekar Kedaton Wetan serta Sembur Kemuning yang masing-masing memiliki makna tersendiri.

 

Pameran "Banjoewangi Tempo Doeloe" bukan sekadar ajang tontonan, melainkan sebuah undangan untuk merenung dan menghargai warisan budaya yang tak ternilai harganya. Dengan jam buka mulai pukul 08:00 hingga 21:00 WIB, masyarakat dapat datang kapan saja. Berbagai stand UMKM juga turut hadir, menyediakan kudapan dan oleh-oleh untuk melengkapi pengalaman pengunjung.

 

Secara keseluruhan, pameran ini adalah persembahan istimewa dari pemerintah dan masyarakat Banyuwangi. Ini adalah sebuah komitmen untuk menjaga agar sejarah dan budaya tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga tetap hidup dan relevan di masa kini.