Meriah! Intip Prosesi Petik Laut Pantai Lampon Banyuwangi yang Berusia Hampir Seabad
Memasuki bulan Suro dalam kalender Jawa, Kabupaten Banyuwangi kembali menyuguhkan segudang pesona adat dan tradisi yang kental. Salah satu yang paling menyedot perhatian adalah ritual adat Petik Laut yang digelar oleh masyarakat pesisir Bumi Blambangan.
Diawali dengan panjatan doa bersama, sebuah perahu kecil yang dirancang khusus tampak dipenuhi dengan berbagai sesajen. Mulai dari kepala sapi, hasil bumi, hingga hasil tangkapan laut diarak meriah oleh warga sebelum akhirnya dilarung ke tengah laut di Pantai Lampon, Desa Pesanggaran, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Selasa (16/6/2026).
Suasana di sekitar pantai seketika pecah dan berubah menjadi lautan manusia. Kegiatan tahunan ini berlangsung sangat meriah berkat ulur tangan dan gotong royong para nelayan Pantai Lampon yang bahu-membahu menyukseskan acara adat tersebut.
Tak sekadar dilarung, prosesi ritual juga diiringi oleh alunan musik tradisional khas Banyuwangi yang magis sekaligus menggugah semangat. Kemeriahan semakin bertambah dengan digelarnya rangkaian pagelaran seni mulai dari wayang kulit, kesenian janger, jaranan, hingga panggung dangdut yang menghadirkan penyanyi kondang Niken Salindry.
Bukan tanpa alasan tradisi ini terus dijaga kelestariannya oleh warga setempat. Ritual Petik Laut ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam atas limpahan hasil laut yang diperoleh para nelayan selama setahun ke belakang.
Baca juga: Menengok Tradisi Unik Warga Banyuwangi Sambut Bulan Suro
Lebih dari sekadar selebrasi, dalam tradisi ini juga terselip doa dan harapan besar dari masyarakat. Mereka berharap agar diberikan keselamatan saat melaut serta rezeki yang semakin melimpah ruah pada tahun ini.
Tokoh masyarakat setempat, Suharsono, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar acara musiman, melainkan warisan leluhur yang bernilai sejarah tinggi. Tradisi turun-temurun ini tercatat telah dilaksanakan sejak tahun 1927 silam.
"Ritual digelar setahun sekali tiap tanggal 1 Suro atau 1 Muharam. Selain larung sesaji, prosesi ritual juga dilaksanakan dengan prosesi selamatan. Kegiatan ini merupakan ulur tangan masyarakat nelayan Pantai Lampon yang merupakan bentuk guyub rukun warga nelayan Lampon," ungkap Suharsono kepada wartawan.
Apresiasi tinggi juga datang dari jajaran pemerintah daerah. Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Hartono, yang turut hadir dalam acara tersebut mengaku sangat bangga dengan kekompakan warga Pantai Lampon.
"Kami sangat bangga kepada warga nelayan Pantai Lampon yang guyup dan rukun dalam menggelar kegiatan yang telah turun temurun sejak puluhan tahun yang lalu. Tradisi ini akan terus berlanjut turun temurun atas guyub rukun warganya," kata Hartono dalam sambutannya.
Selain menyajikan tontonan budaya yang sarat makna, lokasi acara yakni Pantai Lampon sendiri memanjakan mata para pengunjung yang hadir. Pantai ini dikenal sangat indah dengan pemandangan pohon kelapa yang tumbuh subur menjulang tinggi menghiasi sepanjang bibir pantai.
Diawali dengan panjatan doa bersama, sebuah perahu kecil yang dirancang khusus tampak dipenuhi dengan berbagai sesajen. Mulai dari kepala sapi, hasil bumi, hingga hasil tangkapan laut diarak meriah oleh warga sebelum akhirnya dilarung ke tengah laut di Pantai Lampon, Desa Pesanggaran, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Selasa (16/6/2026).
Suasana di sekitar pantai seketika pecah dan berubah menjadi lautan manusia. Kegiatan tahunan ini berlangsung sangat meriah berkat ulur tangan dan gotong royong para nelayan Pantai Lampon yang bahu-membahu menyukseskan acara adat tersebut.
Tak sekadar dilarung, prosesi ritual juga diiringi oleh alunan musik tradisional khas Banyuwangi yang magis sekaligus menggugah semangat. Kemeriahan semakin bertambah dengan digelarnya rangkaian pagelaran seni mulai dari wayang kulit, kesenian janger, jaranan, hingga panggung dangdut yang menghadirkan penyanyi kondang Niken Salindry.
Bukan tanpa alasan tradisi ini terus dijaga kelestariannya oleh warga setempat. Ritual Petik Laut ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam atas limpahan hasil laut yang diperoleh para nelayan selama setahun ke belakang.
Baca juga: Menengok Tradisi Unik Warga Banyuwangi Sambut Bulan Suro
Lebih dari sekadar selebrasi, dalam tradisi ini juga terselip doa dan harapan besar dari masyarakat. Mereka berharap agar diberikan keselamatan saat melaut serta rezeki yang semakin melimpah ruah pada tahun ini.
Tokoh masyarakat setempat, Suharsono, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar acara musiman, melainkan warisan leluhur yang bernilai sejarah tinggi. Tradisi turun-temurun ini tercatat telah dilaksanakan sejak tahun 1927 silam.
"Ritual digelar setahun sekali tiap tanggal 1 Suro atau 1 Muharam. Selain larung sesaji, prosesi ritual juga dilaksanakan dengan prosesi selamatan. Kegiatan ini merupakan ulur tangan masyarakat nelayan Pantai Lampon yang merupakan bentuk guyub rukun warga nelayan Lampon," ungkap Suharsono kepada wartawan.
Apresiasi tinggi juga datang dari jajaran pemerintah daerah. Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Hartono, yang turut hadir dalam acara tersebut mengaku sangat bangga dengan kekompakan warga Pantai Lampon.
"Kami sangat bangga kepada warga nelayan Pantai Lampon yang guyup dan rukun dalam menggelar kegiatan yang telah turun temurun sejak puluhan tahun yang lalu. Tradisi ini akan terus berlanjut turun temurun atas guyub rukun warganya," kata Hartono dalam sambutannya.
Selain menyajikan tontonan budaya yang sarat makna, lokasi acara yakni Pantai Lampon sendiri memanjakan mata para pengunjung yang hadir. Pantai ini dikenal sangat indah dengan pemandangan pohon kelapa yang tumbuh subur menjulang tinggi menghiasi sepanjang bibir pantai.

