Menyusuri Jejak Gandrung di Pesinauan Sekolah Adat Osing, Dari Arsip Visual hingga Sajian Pertunjukan
Gandrung bukan sekadar tontonan estetik di Banyuwangi, melainkan manifestasi ingatan kolektif masyarakat adat Osing yang terjaga lintas zaman. Semangat inilah yang melatari gelaran budaya bertajuk "GANDRUNG: Tubuh Kolektif, Gairah Tradisi, Warisan Bersama" di Pesinauan - Sekolah Adat Osing, Dusun Joyosari, Desa Olehsari, Rabu (13/5/2026).
Acara ini menjadi titik temu bagi para maestro, akademisi, hingga dokumentator budaya untuk duduk bersama masyarakat adat Osing. Tak sekadar panggung pertunjukan tari, kegiatan ini merupakan ruang refleksi mendalam guna membentengi identitas lokal Bumi Blambangan di tengah gempuran modernisasi yang kian kencang.
Gelaran ini merupakan bagian dari Program Dana Indonesiana yang didukung Kementerian Kebudayaan RI dan LPDP melalui skema Layanan Produksi Media Dokumentasi Karya Maestro 2025. Melalui program ini, Gandrung diposisikan sebagai warisan yang hidup dalam denyut nadi keseharian, bukan sekadar artefak masa lalu.
"Gandrung adalah ingatan kolektif masyarakat Banyuwangi. Ia hidup bukan hanya di atas panggung, tetapi juga dalam cara masyarakat menjaga hubungan dengan tubuh dan tradisi," ujar Koordinator Program, Slamet Diharjo atau yang akrab disapa Samsul.
Pengetahuan tentang Gandrung dibedah tuntas, mulai dari gerak tubuh para maestro hingga peran vital sanggar-sanggar desa. Sebagai bentuk diseminasi publik, diluncurkan pula buku “Menari di Atas Kertas: Tubuh dan Ingatan dalam Arsip Visual Gandrung” karya Wiwin Indiarti dan Anasrullah yang memadukan arsip visual dengan catatan etnografis.
Suasana di Pesinauan semakin kental dengan nuansa nostalgia berkat pameran memorabilia. Pengunjung diajak menyusuri lorong waktu melalui arsip foto lawas dan media rekam kuno yang merekam perjalanan panjang Gandrung dari masa ke masa sebagai penjaga jejak pengetahuan budaya Osing.
Tak berhenti di sana, pemutaran film dokumenter turut menyedot perhatian hadirin. Film tersebut merekam dinamika Gandrung dalam menghadapi perubahan sosial, membuktikan bahwa kesenian ini memiliki daya adaptasi tinggi tanpa harus mencerabut akar tradisi yang sudah tertanam kuat.
Puncak acara ditandai dengan pagelaran Gandrung Terop yang ikonik. Lima Gandrung lintas generasi, yakni Gandrung Temu, Dartik, Sunasih, Mudaiyah, dan Lina, tampil memukau dalam satu panggung yang sama, menyimbolkan estafet tradisi yang tidak pernah putus.
Sebanyak tujuh dari delapan sesi pertunjukan ditampilkan secara apik, mulai dari Giro Gandrung, Topengan, Jejer, Gedhog, Repenan, Pajuan, hingga ditutup dengan Seblang Subuh. Pertemuan para maestro ini menjadi penghormatan tertinggi bagi mereka yang telah mendedikasikan hidup demi menjaga nyawa Gandrung.
Melalui inisiatif ini, diharapkan muncul dokumentasi budaya berbasis komunitas yang lebih kuat. Tujuannya jelas, memperkokoh regenerasi seni tradisi agar identitas lokal Banyuwangi tetap tegak berdiri meski zaman terus bergulir dinamis.

