Menyibak Luhurnya Tradisi Endog-Endogan, Perayaan Maulid Unik di Banyuwangi Pawai endog-endogan di Banyuwangi
nasional Dinas Kebudayaan & Pariwisata Banyuwangi

Menyibak Luhurnya Tradisi Endog-Endogan, Perayaan Maulid Unik di Banyuwangi

1136x Dilihat

Banyuwangi memilki tradisi unik dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Setiap tahunnya, perayaan Maulid Nabi berlangsung meriah hampir di seluruh desa di Kabupaten Banyuwangi. Tak hanya berlangsung pada tanggal 12 Rabiul Awal saja, perayaan biasanya berlangsung selama satu bulan bahkan lebih.  

Menurut catatan sejarah, tradisi Endog-endogan telah ada di Banyuwangi sejak tahun 1911. Dalam cerita lisan masyarakat Banyuwangi, tradisi tersebut konon pertama kali dicetuskan oleh K.H. Abdullah Faqih yang merupakan santri dari ulama terkenal Kiyai Syaikhona Kholil. Kiai Syaikhona Kholil pernah menyampaikan bahwa telur adalah perumpamaan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dari ucapan tersebut, Kiai Abdullah Faqih kemudian mengumpulkan telur rebus, menghiasnya kemudian menancapkannya ke batang pohon pisang atau disebut jodhang.

Awalnya, tradisi ini menggunakan telur bebek. Saat bertelur, bebek cenderung tenang dan diam yang sehingga telurnya dimaknai sebagai perlambangan orang yang sedekah secara diam-diam. Sering berjalannya waktu, masyarakat mengganti telur bebek dengan telur ayam karena lebih mudah didapatkan. Telur dalam tradisi Endog-endogan juga memiliki arti istimewa. Telur yang terdiri dari tiga lapisan yaitu kulit, putih telur dan kuning telur melambangkan Iman, Islam Ihsan. Sementara batang pohon pisang yang dapat tumbuh kembali, memiliki makna pantang menyerah.

Tradisi Endog-endogan tetap lestari hingga saat ini. Tiap tahunnya, masyarakat berbondong-beondong menghias telur lalu menancapkannya pada batang pohon pisang yang dihias semenarik mungkin. Sebelum dibawa ke masjid, jodhang akan diarak keliling kampung dengan diiringi musik rebana dan lantunan puji-pujian. Setelah pembacaan doa, telur-telur akan dicabut dan dibagikan ke pada masyarakat. Sementara di sekolah-sekolah, perayaan Maulid dilakukan dengan lomba menghias jodhang. 

Momen ini pun menjadi limpahan rezeki bagi para pengerajin hiasan telur atau yang biasa disebut Kembang Endong. Lorong-lorong pasar dan toko kelontong dipenuhi warna-warni Kembang Endog yang siap menghiasi jodhang. Adanya pengerajin Kembag Endog ini sangat memudahkan masyarakat lantaran proses pengerjaanya membutuhka waktu cukup lama. 

Setiap tahunnya, momen Endog-endogan selalu dinanti oleh masyarakat khususnya anak kecil yang sangat antusias berburu telur di masjid kampungnya masing-masing. Tradisi ini sarat akan nilai kehidupan di mana masyarakat dapat saling berbagi dan bergotong royong.  Bagi Banyuwangi sendiri, tradisi Endog-endogan menjadi budaya sekaligus wisata reiligi yang bernilai luhur.