Menghidupkan Sejarah Lewat Walking Tour, Komunitas JalaninAja Terapkan Experiential Tourism di Banyuwangi Peserta Walking Tour di Pendopo Sabha Swagata Blambangan
nasional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi

Menghidupkan Sejarah Lewat Walking Tour, Komunitas JalaninAja Terapkan Experiential Tourism di Banyuwangi

159x Dilihat

Geliat pariwisata Banyuwangi kini semakin berwarna dengan hadirnya ragam inovasi wisata berbasis komunitas. Pekan lalu, tepatnya pada Minggu (13/09/2026), komunitas JalaninAja sukses menggelar Heritage Walking Tour yang diikuti oleh sekitar 30 peserta lintas generasi, mulai dari pemuda hingga usia paruh baya. Kegiatan ini menandakan bahwa Banyuwangi memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata sejarah dan budaya, di mana daerah ini menyimpan banyak sekali situs untuk dieksplorasi secara mendalam oleh wisatawan maupun warga lokal.

Rute penjelajahan dimulai dari Pendopo Sabha Swagata Blambangan, di mana para peserta diajak menyelami legenda nama Banyuwangi. Perjalanan kemudian berlanjut menyusuri kawasan Kelurahan Temenggungan yang dahulu merupakan kompleks pemukiman para pejabat Kadipaten Blambangan, memberikan pengalaman visual dan historis yang autentik bagi para peserta. 

Eksplorasi berlanjut menuju kawasan Kalilo, kemudian menyusuri kawasan artistik Kampung Lukis, hingga ke titik 0 km Banyuwangi serta kompleks makam bupati di belakang Masjid Agung Baiturrahman. Para peserta juga diajak singgah di Kantor Pos—bangunan peninggalan kolonial Belanda yang berdiri sejak tahun 1870—serta kawasan Inggrisan yang sarat akan sejarah perdagangan dan jaringan telegraf masa lalu. Seluruh rangkaian rute ini dikemas apik, menyelaraskan fungsi rekreasi dan edukasi sejarah perkotaan.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi sepanjang perjalanan. Didampingi oleh pemandu profesional, para peserta aktif menyimak setiap narasi sejarah yang disampaikan. Suasana tour pun menjadi hidup, menjelma menjadi ruang diskusi yang menarik. Founder komunitas JalaninAja, Alfi Alhuziri, menjelaskan bahwa inisiatif ini berawal dari kegiatan sederhana. Ia bersama dua founder lainnya, yaitu  Nafis Harwin dan Huriyah Kamilah kemudian mengembangkan kegiatan tersebut menjadi gerakan kolektif yang terbuka untuk publik.

"Komunitas ini awalnya lahir sebagai wadah kumpul santai yang positif untuk mengisi waktu luang di pagi hari. Dari rutinitas jalan kaki bersama, akhirnya berkembang inisiatif untuk tidak sekadar berolahraga, tetapi juga merangkul masyarakat agar lebih dekat dan peduli dengan potensi lingkungan sekitar," ungkap Alfi.

Kegiatan yang digagas oleh komunitas JalaninAja ini membuktikan bahwa menikmati pesona daerah dapat dikemas dengan cara yang lebih bermakna. Mengusung konsep wisata berbasis pengalaman (experiential & immersive tourism), para peserta diajak untuk tidak sekadar melihat-lihat, melainkan terlibat secara aktif dan menciptakan ikatan emosional dengan lingkungan sekitar. Didorong oleh semangat menyediakan ruang aktivitas positif, mengeksplorasi potensi lokal, serta menggerakkan ekonomi warga di sepanjang rute, komunitas ini konsisten menghadirkan ragam tema unik setiap pekannya. Kegiatan ini pun dapat memperkuat daya tarik pariwisata Banyuwangi yang semakin kreatif, inklusif, serta berkelanjutan.