Mengenal Snackpacking, Tren Berwisata Sambil Jelajah Pasar Tradisional di Banyuwangi yang Kian Digandrungi Pasar Kampoeng Osing Desa Kemiren
nasional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Mengenal Snackpacking, Tren Berwisata Sambil Jelajah Pasar Tradisional di Banyuwangi yang Kian Digandrungi

121x Dilihat


Perubahan pola berwisata di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan arah yang cukup menarik. Jika dahulu aktivitas liburan kerap diidentikkan dengan kunjungan ke destinasi populer seperti pantai, gunung, atau pusat kota, kini muncul tren baru yang kian digandrungi masyarakat.

Tren tersebut dikenal dengan istilah snackpacking, yang kini menjadi warna baru dalam industri pariwisata nasional. Fenomena ini tumbuh pesat dan menarik perhatian banyak pihak karena membawa pendekatan yang berbeda dari konsep liburan konvensional.

Istilah snackpacking merujuk pada aktivitas berwisata sambil menjelajahi ragam jajanan lokal sebagai tujuan utama perjalanan. Kehadiran pasar tradisional kini bergeser dari sekadar tempat belanja kebutuhan pokok menjadi destinasi wisata utama yang dicari para pelancong.
 
Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang menawarkan pengalaman snackpacking yang memikat. Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini memiliki sejumlah destinasi kuliner tradisional yang sangat cocok untuk mengeksplorasi jajanan lokal.

Beberapa lokasi yang kerap menjadi buruan para pecinta snackpacking di Banyuwangi antara lain Pasar Kampoeng Osing di Desa Kemiren, Pasar Wit-Witan di Singojuruh, serta Pasar Bengi di Olehsari. Selain ketiga lokasi tersebut, masih terdapat berbagai sudut destinasi kuliner lain yang menyajikan kekayaan rasa khas daerah.

Generasi muda, khususnya Gen Z, menjadi penggerak utama di balik populernya gaya liburan ini. Bagi mereka, snackpacking bukan sekadar aktivitas berburu makanan untuk mengenyangkan perut, melainkan sebuah bentuk pengalaman budaya yang menyeluruh.

Gen Z memandang pasar tradisional bukan sekadar tempat transaksi jual beli belaka. Lebih dari itu, pasar dinilai sebagai ruang hidup yang menyimpan cerita lokal, interaksi sosial yang hangat, serta identitas kuliner khas suatu daerah.

Melalui snackpacking, para wisatawan muda ini merasa bisa menjalin hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat lokal. Aktivitas ini memberikan rasa autentik dalam menikmati dinamika suatu kota sekaligus memberi kebebasan untuk menentukan rute perjalanan sesuai selera pribadi.

Pesatnya kepopuleran tren ini juga mendapat perhatian dari Kementerian Pariwisata. Melalui laman resminya, Kemenpar mengulas beberapa faktor utama yang menyebabkan snackpacking begitu cepat diterima dan digandrungi oleh Gen Z.

Faktor pertama adalah pencarian pengalaman autentik. Gen Z cenderung mencari petualangan yang nyata dan unik, bukan sekadar berswafoto di destinasi mainstream. Pasar tradisional menawarkan suasana khas, aroma masakan otentik, serta interaksi langsung dengan pedagang yang tidak dapat ditemukan di pusat perbelanjaan modern.

Alasan kedua terletak pada faktor biaya yang sangat terjangkau. Wisata snackpacking terbilang ramah di kantong mahasiswa maupun pekerja muda. Cukup dengan mengalokasikan anggaran sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000, wisatawan sudah bisa mencicipi aneka ragam jajanan lokal tanpa khawatir menguras dompet.

Selain itu, dorongan konten media sosial turut memegang peranan besar. Visual jajanan yang unik dan berwarna-warni, suasana pasar yang hidup, hingga interaksi spontan bersama pedagang menjadi bahan konten yang sangat menarik untuk diunggah di platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube.

Faktor terakhir adalah adanya dukungan dari maraknya tren kuliner lokal saat ini. Gaung gerakan bangga produk dalam negeri serta meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan kuliner daerah membuat snackpacking menjadi semakin relevan dengan gaya hidup anak muda.

Fenomena snackpacking ini membuktikan dampak positif yang luas bagi ekosistem pariwisata. Tren ini sukses mendorong penguatan posisi pasar tradisional, mempercepat pemberdayaan UMKM lokal, memajukan potensi wisata kuliner, sekaligus menjadi sarana efektif dalam mempromosikan kekayaan cita rasa daerah.

Pada akhirnya, snackpacking bukan sekadar tren kuliner sesaat, melainkan sebuah gerakan wisata baru yang berhasil menjembatani generasi muda dengan kekayaan budaya Indonesia. Pasar tradisional pun kini bertransformasi menjadi ruang pertemuan yang menghadirkan pengalaman liburan autentik, terjangkau, dan penuh cerita berkesan.
 
 
 
 
(yap)