Mengenal Beragam Tradisi yang Ditampilkan di Festival Kuwung 2024 ilustrasi ritus buyut cungking
nasional Dinas Kebudayaan & Pariwisata Banyuwangi

Mengenal Beragam Tradisi yang Ditampilkan di Festival Kuwung 2024

279x Dilihat

Festival Kuwung 2024 telah sukses digelar pada Sabtu malam di Keyang digelar di Banyuwangi mengangkat tema Peningset Cindhe Sutro, yang memiliki makna mendalam tentang merajut persatuan dalam keberagaman. Penampil di Festival Kuwung 2024 berasal dari komunitas seni yang ada di seluruh wilayah Banyuwangi. Setiap distrik budaya menampilkan kekayaan tradisi budaya yang luhur. Masing-masing kelompok menampilkan ritus dan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun, mengemasnya dalam bentuk pertunjukan yang memukau dan mengesankan.

 

Ritus Selametan Buyut Cungking

Wilayah Banyuwangi Kota dan sekitarnya menampilkan Ritus Selametan Buyut Cungking dengan kesenian Bordah berjudul Resik Kagungan. Ritus ini merupakan penghormatan terhadap leluhur daerah Cungking yang digelar di Taman Nasional Baluran. Masyarakat meyakini bahwa kawasan Baluran merupakan sawah milik Buyut Cungking atau Ki Buyut Wangsakarya. Secara filosofis, ritus ini mengajarkan rasa syukur dan penghormatan terhadap alam dan leluhur, yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi.

 

Ritus Shanyang

Rogojampi dan sekitarnya mempersembahkan Ritus Shanyang dengan atraksi kesenian Kuntulan berjudul Sang Hyang Tuwuh. Ritus ini merupakan warisan budaya pra-Hindu dari Bali yang berfungsi sebagai upacara tolak bala untuk mengusir wabah penyakit atau roh jahat. Dalam filosofi Peningset Cindhe Sutro, Ritus Shanyang menggambarkan pentingnya keseimbangan antara manusia dan kekuatan alam, serta upaya untuk menjaga keharmonisan dengan dunia gaib.

 

Ritus Baritan

Blambangan Muncar dan sekitarnya menampilkan Ritus Baritan dengan atraksi seni Praburoro berjudul Baritan. Ritus ini dilakukan untuk menyambut Tahun Baru Islam atau 1 Muharram, dengan tujuan mengungkapkan rasa syukur, mencegah bencana, dan mempererat silaturahmi antar warga. Filosofi yang terkandung dalam Ritus Baritan adalah perlunya menjaga kedamaian dalam masyarakat serta menghargai setiap siklus kehidupan sebagai bagian dari keharmonisan sosial.

 

Ritus Selametan Purwo

Wilayah Bangorejo dan sekitarnya mempersembahkan Ritus Selametan Purwo dengan atraksi seni Jaranan berjudul Pedut Tlatah Purwo. Ritus ini dilaksanakan di beberapa titik di Taman Nasional Alaspurwo, seperti Pantai Pancur dan Goa Istana, sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan keselamatan bagi masyarakat. Ritus ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan alam dan menjaga kelestarian lingkungan hidup, yang juga berkontribusi pada kehidupan yang seimbang dan harmonis.

 

Ritus Kawin Tebu

Wilayah Glenmore dan sekitarnya menampilkan Ritus Kawin Tebu dengan atraksi seni Wayang Topeng berjudul Kawin Tebu. Ritus ini biasa dilakukan oleh masyarakat Glenmore sebelum penggilingan tebu pertama, dengan cara menikahkan dua batang tebu. Filosofi dari Ritus Kawin Tebu adalah tentang memulai segala sesuatu dengan niat yang kuat untuk meningkatkan taraf hidup, terutama bagi petani tebu. Ritus ini juga mencerminkan pentingnya kerjasama dan tekad bersama untuk mencapai tujuan yang lebih baik dalam kehidupan.

 

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Dewa Alit Siswanto menyampaikan bahwa, Festival Kuwung 2024 menjadi momen untuk mengenalkan ritus dan tradisi yang ada di Banyuwangi kepada masyarakat luas.

 

“Kami mengusung tema Peningset Cindhe Sutro dengan lima distrik atraksi yang masing-masing menampilkan ritus yang ada di masyarakat. Tujuannya adalah untuk mengenalkan bahwa di Banyuwangi terdapat banyak tradisi yang sarat akan makna, ini pentin untuk diketahui oleh masyarakat maupun generasi muda agar dapat menjaga warisan budaya kita,” ungkapnya. 

 

Melalui kelima distrik yang menampilkan beragam atraksi ini, Festival Kuwung 2024 tidak hanya merayakan kekayaan seni dan budaya Banyuwangi, tetapi juga menggambarkan filosofi Peningset Cindhe Sutro, yang mengajarkan bahwa keberagaman adalah kekuatan yang harus dirawat dengan saling menghargai, bekerja sama, dan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.