Menengok Semangat Warga Kemiren Banyuwangi, Penjaga Adat yang Setia Merawat Tradisi Mepe Kasur
Kobaran semangat merawat warisan leluhur begitu terasa di sepanjang jalan utama Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, pada Kamis pagi (21/5/2026). Warga dari berbagai generasi tampak membara saat mereka kompak mengeluarkan dan menjemur kasur tradisional di depan halaman rumah masing-masing. Alih-alih luntur digerus zaman, masyarakat suku Osing di desa Kemiren justru menunjukkan dedikasi yang kian kuat dalam menghidupkan ritual tahunan "Mepe Kasur" secara serentak, sebuah bukti nyata dari keteguhan mereka menjaga identitas kultural tanah kelahiran.
Ketulusan dalam menjaga tradisi ini terpancar jelas dari para sesepuh desa yang bertindak sebagai jangkar budaya, salah satunya adalah Mbah Ning. Di usianya yang telah menginjak 80 tahun, wanita sepuh ini tetap menunjukkan semangat yang luar biasa, ikut serta menjemur kasur tradisionalnya bersama tetangga sekitar. Langkah kakinya yang mantap dan senyumnya yang merekah menjadi simbol hidup bahwa api kecintaan terhadap adat Osing akan terus menyala dan diwariskan kepada anak cucu.
“Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman dahulu, kita mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tua kami,” ungkap Mbah Ning. Di sela-sela aktivitasnya merapikan kasur, ia kemudian menghidupkan tradisi lisan basanan—seni berpantun khas suku Osing yang biasa dilantunkan warga Kemiren dalam berbagai momen adat—“Nunggang sepur mudung nong Kraksan, nyuwun nyiru sing ono isine. Mepe kasur setahun sepisan, tumpeng sewu kang dadi saksine.” Untaian sastra lisan yang dibuat dan diucapkan langsung oleh Mbah Ning ini mempertegas bahwa kepatuhan generasi hari ini adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu yang luhur dengan masa depan desa yang tetap berkarakter.
Semangat menjaga kesucian adat ini pun menjadi pondasi penting bagi kekayaan budaya Kabupaten Banyuwangi secara luas. Kekompakan warga dalam ritual Mepe Kasur yang digelar sejak pagi ini bukan sekadar rutinitas tanpa makna, melainkan sebuah persiapan batin kolektif. Ritual ini menjadi pintu pembuka atau awal yang sakral menuju puncak perayaan bersih desa, yaitu tradisi Tumpeng Sewu yang akan digelar pada malam harinya.
Kehidmatan ritual adat ini pun semakin semarak dengan adanya agenda arak-arakan Barong keliling desa yang dilaksanakan pada sore hari, serta pembacaan bait-bait suci melalui mocoan Lontar Yusuf di malam hari setelah selamatan tumpeng usai. Tak berhenti di situ, esensi pelestarian budaya ini bakal berlanjut hingga keesokan harinya melalui suguhan kesenian tradisional Gandrung Terob yang akan dipentaskan secara meriah di Balai Desa Kemiren.

