Mbludak, Ribuan Pengunjung Padati Tradisi Kebo-keboan Boyolangu 2026 Pawai tradisi Kebo-Keboan Boyolangu
nasional Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Mbludak, Ribuan Pengunjung Padati Tradisi Kebo-keboan Boyolangu 2026

121x Dilihat

Suasana Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, mendadak riuh pada Minggu (29/3/2026). Ribuan warga memadati sepanjang jalan protokol untuk menyaksikan kembali tradisi Kebo-keboan yang digelar dengan penuh kemeriahan. Acara ini merupakan bagian inti dari rangkaian Boyolangu Traditional Culture yang rutin diselenggarakan setiap tanggal 9 Syawal sebagai simbol pelestarian budaya lokal.

 

Kegiatan tahunan ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan rangkaian menuju tradisi besar lainnya, yakni Puter Kayun, yang dijadwalkan berlangsung keesokan harinya, Senin (30/3/2026). Sinergi antar-tradisi ini menunjukkan betapa kuatnya akar budaya masyarakat Boyolangu dalam menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

 

Tradisi Kebo-keboan di Boyolangu diyakini telah eksis sejak tahun 1950-an dan terus dipertahankan secara turun-temurun. Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi; mulai dari anak-anak hingga lansia tumpah ruah ke jalanan untuk mengikuti jalannya ritual yang memadukan unsur budaya, seni pertunjukan, dan nilai spiritual yang mendalam.

 

Dalam prosesi ritual tersebut, sekumlah orang bersiap untuk menjadi sang kerbau dengan riasan hitam pekat dan tanduk buatan. Mereka dirituali terlebih dahulu dengan diberikan bedak dari kunyit dan beras yang diduga menjadi salah satu sumber kekuatan.

 

Mereka beraksi layaknya hewan kerbau di tengah keramaian, melakukan gerakan seperti membajak sawah dan berinteraksi dengan warga, yang menciptakan suasana magis sekaligus menghibur bagi para penonton yang hadir.

 

Ribuan masyarakat turut mengikuti Tradisi Kebo-Keboan yang mengelilingi Kelurahan Boyolangu.

 

Ada yang berbeda pada penyelenggaraan tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Acara dibuka dengan penampilan sendratari Kebo Cilik yang dibawakan dengan apik oleh siswa-siswi SDN 1 Boyolangu. Kehadiran para penari cilik ini menjadi simbol regenerasi agar nilai-nilai tradisi tetap tertanam pada generasi muda sejak dini.

 

Puncak ritual tradisi ini dipimpin langsung oleh sosok istimewa, yakni Jessica Meidyas Putri yang merupakan 5th Miss Grand Tourism 2024, bersanding dengan Ki Pramu.

 

Tokoh pemuda sekaligus tokoh adat Boyolangu, Slamet Darmadi, menyatakan bahwa tradisi ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas kolektif masyarakat setempat. Menurutnya, konsistensi pelaksanaan ritual ini adalah kunci mengapa Boyolangu tetap dikenal sebagai salah satu lumbung budaya di Banyuwangi.

 

“Kebo-keboan ini merupakan tradisi. Jadi, hampir setiap tahun digelar dan setiap tahunnya semakin berkembang,” ujar Darmadi.

 

Ia menambahkan bahwa inovasi dalam kemasan acara terus dilakukan tanpa mengurangi esensi dari ritual aslinya.

 

Lebih dari sekadar hiburan rakyat, Kebo-keboan adalah manifestasi rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hasil panen yang melimpah. Simbol kerbau dipilih karena merupakan mitra setia petani di sawah, menjadikannya lambang penghormatan terhadap alam dan kehidupan agraris yang menjadi sandaran hidup warga.

 

Dengan tetap teguh menjaga nilai-nilai luhur, Boyolangu Traditional Culture diharapkan terus menjadi daya tarik wisata budaya yang unik di Kabupaten Banyuwangi. Selain mendongkrak sektor pariwisata, momentum ini terbukti ampuh dalam mempererat tali persaudaraan dan gotong royong di tengah masyarakat.