Magisnya Penampilan Didik Nini Thowok di Malam Puncak Selametan Bumi
Gelaran Festival Kebangsaan Selametan Bumi tahun ini terasa begitu istimewa berkat kehadiran Didik Nini Thowok. Ia hadir untuk menjadi pembicara sekaligus penampil di malam puncak selametan bumi yang berlangsung di Gesibu Blambangan pada Sabtu malam (18/11). Penampilan sang maestro tari itu sontak mengundang decak kagum para hadirin.
Dalam momen itu, Didik Nini Thowok membawakan lakon Ardhanariswara. Lakon tersebut merupakan wujud penyatuan Dewa Siwa dengan Dewi Parwati dalam satu visualisasi. Secara luas, Ardhanariswara dikenal sebagai bentuk kemanunggalan antara konsep laki-laki dan perempuan. Sebagai seorang seniman, Didik Nini Thowok sendiri memang kondang akan kemampuannya dalam menampilkan seni tari dwimuka.
“Penampilan sisi maskulin dan feminin Siwa yang akan saya bawakan malam ini adalah simbol keseimbangan, seperti yin dan yang. Jadi semua hal harus seimbang, baik buruk, laki-laki dan perempuan, semuanya seimbang, kalau tidak seimbang berarti ada yang bermasalah,” jelasnya.
Dengan riasan wajah yang terbagi dalam warna merah muda dan biru, Didik berhasil menyuguhkan penampilan yang magis. Lembutnya gerakan berpadu dengan ekspresi wajah yang lugas menyiratkan makna bahwa sisi maskulin dan feminin merupakan hal organik yang dimiliki seorang manusia. Lakon tersebut sekaligus menyampaikan pesan bahwa dengan keseimbangan, manusia dapat dapat mengembangkan serta mengekspresikan dirinya dengan semenarik mungkin.
Didik Nini Thowok mengaku sangat bahagia karena mendapat kesempatan menjadi penampil di malam puncak selametan bumi. Baginya, acara ini merupakan teladan yang bagus dalam upaya mempersatukan keberagaman melalui seni. Terlebih, banyak sekali generasi muda yang terlibat sehingga dapat menanamkan spirit kebhinekaan sejak dini.
“Kegiatan ini menurut saya sangat menarik dan penting, karena di sini didukung oleh teman-teman dan adik-adik lintas iman. Ini adalah wujud kebersamaan, wujud toleransi, wujud berbeda tapi satu. Indonesia sangat butuh acara semacam ini karena isu sara kadang masih memanas, nah dengan kesenian saya berharap semuanya akan menjadi cair karena seni itu olah rasa,” ungkapnya.
Tak lupa, Didik Nini Thowok memberikan apresiasi terhadap Banyuwangi yang telah rutin menggelar acara Festival Kebangsaan Selametan Bumi yang melibatkan masyarakat lintas budaya dan religi. Menurutnya, acara ini berperan sangat besar dalam mengurangi kesenjangan sosial budaya di masyarakat. Ia pun berharap daerah lain dapat mencontoh apa yang sudah dilakukan Banyuwangi.

