Long Weekend Iduladha 2026, Waktunya Berburu Wisata Budaya Magis di Banyuwangi!
Libur panjang Idul Adha 2026 menjadi momen yang sangat cocok untuk menghabiskan waktu berlibur. Bagi Anda yang sedang berada di Banyuwangi, libur lebaran kali ini menyuguhkan berbagai kegiatan ritual seni budaya yang unik, magis, dan tentunya sangat berkesan untuk disaksikan.
Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini memang tak pernah kehabisan pesona budayanya. Tepat pada Hari Raya Idul Adha 1447 H yang jatuh pada Rabu (27/5/2026), warga Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, kembali menggelar tradisi unik tahunan mereka bernama Mencak Sumping atau Pencak Sumping.
Tradisi Mencak Sumping ini tak hanya sekadar menjadi bentuk pelestarian seni bela diri pencak silat bagi warga lokal. Lebih dari itu, atraksi turun-temurun ini telah bertransformasi menjadi daya tarik wisata budaya luar biasa yang kerap memikat perhatian wisatawan mancanegara.
Mencak Sumping sendiri merupakan pertunjukan pencak silat tradisional yang dipadukan dengan iringan musik khas Bumi Blambangan yang rancak dan penuh semangat. Suasana riuh dan magis langsung terasa begitu tabuhan musik mulai menggema di lokasi acara.
Menariknya, para pendekar yang tampil dalam tradisi ini datang dari berbagai lintas generasi. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga lansia, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya melebur menampilkan jurus-jurus silat andalan mereka secara lincah dan energik.
Mereka tampil memukau penonton dengan memperagakan teknik bela diri, baik dengan tangan kosong maupun menggunakan senjata tajam. Usut punya usut, tradisi ini ternyata memiliki keterikatan yang sangat erat dengan sejarah berdirinya Dusun Mondoluko.
Konon, pada masa penjajahan Belanda dahulu, ada seorang tokoh masyarakat setempat bernama Buyut Ido. Beliau mengalami luka parah (luko) dalam pertempuran hingga kondisi tubuhnya terkoyak (modol-modol), yang kemudian menjadi asal-usul penamaan kampung "Mondoluko".
Selain menyuguhkan aksi silat yang menegangkan, acara ini juga identik dengan keberadaan kue 'sumping'. Sumping merupakan kudapan tradisional berbahan dasar pisang yang dibungkus adonan tepung lalu dikukus, atau mirip dengan kue nagasari di daerah lain.
Uniknya, kue sumping di sini bukan hanya disajikan sebagai hidangan pencuci mulut bagi para tamu undangan. Kue tradisional ini juga digunakan langsung dalam atraksi silat sebagai simbol atau bentuk pengakuan kemenangan bagi para pendekar yang bertanding.
Dalam atraksinya, pendekar yang memenangkan pertarungan akan ‘menyumpal’ mulut lawan yang kalah dengan kue sumping tersebut. Aksi ini menjadi simbol humoris sekaligus bentuk penghormatan tinggi antarpendekar agar tidak ada dendam setelah bertanding.

Tak berhenti di situ, keseruan libur Idul Adha di Banyuwangi akan berlanjut dengan ritual mistis Seblang Bakungan. Ritual adat yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini dijadwalkan kembali digelar oleh masyarakat suku Using setempat.
Ritual tahunan yang sarat akan nuansa magis ini akan diselenggarakan di Balai Sanggar Seblang, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah. Berdasarkan agenda, ritual sakral ini bakal berlangsung pada hari Minggu (31/5/2026) mendatang.
Untuk diketahui, Seblang Bakungan merupakan sebuah tarian magis yang dibawakan oleh seorang wanita tua yang telah menopause dalam kondisi trans atau kehilangan kesadaran. Tarian yang penuh energi spiritual ini selalu berhasil menyedot perhatian ribuan pengunjung.
Puncak acara Seblang Bakungan akan dimulai dengan prosesi pembacaan mantra dan doa oleh pemangku adat. Setelah itu, sang penari Seblang akan dirasuki roh leluhur dan mulai menari mengikuti irama gending, yang akan berlangsung semalam suntuk.
Bagi masyarakat Kelurahan Bakungan, tradisi ini bukan sekadar hiburan visual semata, melainkan ritual bersih desa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan tolak bala. Bagi wisatawan yang tertarik menyaksikan kedua tradisi legendaris ini, diimbau untuk datang lebih awal ke lokasi agar tidak kehabisan tempat.

