Lestarikan Budaya, Warga Purwoharjo Banyuwangi Gelar Tradisi Cambuk Tiban Kesenian Tradisi Tiban di Banyuwangi
nasional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Lestarikan Budaya, Warga Purwoharjo Banyuwangi Gelar Tradisi Cambuk Tiban

195x Dilihat

Gemeretak suara pecut yang beradu dengan kulit kembali membahana di Bumi Blambangan. Tradisi unik Kesenian Tiban, yang secara historis merupakan ritual pemanggil hujan, kembali digelar dengan tajuk "Tiban Sodo Purwo" di kawasan ikonik Pasar Wit-Witan, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi.

 

Perhelatan budaya ini dijadwalkan berlangsung selama sepekan penuh, mulai tanggal 10 - 17 Mei 2026. Sejak hari pertama dibuka, antusiasme warga tampak membeludak untuk menyaksikan aksi heroik para jawara Tiban yang saling adu ketangkasan di tengah gelanggang.

 

Kesenian Tiban sendiri merupakan warisan turun-temurun yang telah mengakar kuat dalam identitas masyarakat Banyuwangi sejak zaman nenek moyang. Dalam atraksi ini, dua peserta akan saling berhadapan dan bergantian mencambuk tubuh lawan menggunakan pecut yang terbuat dari lidi pohon aren yang dipilin.

 

Pemandangan khas dari tradisi ini adalah para peserta yang bertelanjang dada, memamerkan nyali dan ketahanan fisik mereka. Meski terlihat ekstrem dengan bekas cambukan yang memerah di punggung, kesenian ini tetap dipenuhi nilai sportivitas dan rasa persaudaraan antar-pemain.

 

Koordinator acara, Suharsoyo, menjelaskan bahwa misi utama dari gelaran Tiban Sodo Purwo tahun ini adalah menjaga nyala api kebudayaan lokal. Menurutnya, di tengah gempuran budaya luar, identitas asli daerah tidak boleh luntur begitu saja.

 

"Kegiatan ini kami gelar dalam rangka melestarikan kesenian tradisional nenek moyang kita agar tetap eksis dan dikenal luas," ungkap Suharsoyo, Kamis (14/5/2026).

 

Lebih lanjut, Suharsoyo menaruh harapan besar kepada generasi Z dan milenial agar tidak abai terhadap warisan leluhur. Ia ingin tradisi ini terus hidup dan menjadi kebanggaan bagi pemuda setempat meski zaman terus bergerak ke arah digitalisasi yang serba modern.

 

"Harapan ke depan, semoga generasi muda jangan sampai lupa. Kesenian ini harus tetap dilestarikan. Meskipun di era modern seperti sekarang, kita harus tetap memegang teguh budaya sendiri," tegasnya.

 

Meski merupakan olahraga ketangkasan yang keras, panitia tetap memberlakukan aturan main yang ketat demi aspek keselamatan. Para peserta dilarang keras mengarahkan cambukan ke area wajah dan alat vital. Selain itu, penggunaan alat pengaman tambahan seperti helm sangat diwajibkan bagi setiap petarung yang turun ke gelanggang.

 

Salah satu peserta muda, Moch Bagus Tirta Samudra (22), warga Curahjati, Desa Grajagan, mengaku merasakan sensasi luar biasa saat pertama kali mencoba tradisi ini. Baginya, rasa perih di kulit tidak sebanding dengan kepuasan bisa berkontribusi menjaga budaya lokal.

 

"Saya baru pertama kali ikut kesenian Tiban ini. Menurut saya sangat bagus diselenggarakan sebagai ajang nguri-uri budaya lokal agar tidak punah dimakan zaman," ujar Bagus.

 

Menariknya, kemeriahan Tiban Sodo Purwo tidak hanya warga lokal, ada yang datang dari daerah lain. Tak hanya didominasi oleh orang dewasa. Kalangan anak-anak pun tampak antusias ikut meramaikan suasana, tentunya dengan pengawasan ketat dan batasan keamanan yang telah disesuaikan oleh pihak panitia untuk menjamin keselamatan mereka.