Lestarikan Budaya, Bocah-Bocah di Banyuwangi Belajar Menganyam Ketupat Belajar membuat ketupar di Sanggar Nampani
nasional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Banyuwangi

Lestarikan Budaya, Bocah-Bocah di Banyuwangi Belajar Menganyam Ketupat

248x Dilihat


Menyantap ketupat merupakan hidangan wajib saat Lebaran Idul Fitri. Namun, tahukah Anda makna mendalam di balik hidangan khas ini? Bagi masyarakat Jawa, ketupat bukan sekadar makanan, melainkan simbol filosofis yang kaya akan makna.

"Ketupat" atau "kupat" dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari "Ngaku Lepat," yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini tercermin dalam tradisi Lebaran, di mana umat Muslim saling bermaaf-maafan dan mengakui kesalahan masing-masing.

Semangat pelestarian budaya ini juga terlihat pada anak-anak yang tergabung dalam Sanggar Nampani di Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Mereka memanfaatkan waktu Ramadan untuk belajar menganyam ketupat, dimulai dari membuat selongsongnya yang terbuat dari janur (daun kelapa muda). Senin, (24/3/2025).

Dengan antusias, mereka mempelajari teknik menganyam yang rumit ini, menunjukkan minat yang besar terhadap warisan budaya mereka. Ketua Sanggar Nampani, Samian, mengungkapkan kebanggaannya atas semangat anak-anak dalam melestarikan tradisi ini.

"Mereka sangat antusias melestarikan budaya, seperti yang dilakukan anak-anak di sini. Selain belajar menari, mereka juga belajar budaya-budaya tradisional seperti menganyam ketupat," ujar Samian.

Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan menganyam, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur budaya Jawa pada generasi muda. Diharapkan, tradisi membuat ketupat ini akan terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang.