Lautan Manusia di Kaki Ijen, Senja di AWT Banyuwangi Pecah Bareng Musisi Legendaris Catur Arum Catur Arum perform Senja di AWT Banyuwangi
nasional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Lautan Manusia di Kaki Ijen, Senja di AWT Banyuwangi Pecah Bareng Musisi Legendaris Catur Arum

135x Dilihat

Sektor pariwisata di Bumi Blambangan seolah tak pernah kehabisan bensin untuk berinovasi. Destinasi Agrowisata Tamansuruh (AWT) kembali menyedot perhatian lewat program anyar bertajuk Senja di AWT. Paket wisata ciamik yang memadukan lanskap pegunungan yang sejuk dengan kekayaan budaya lokal ini sukses menjadi magnet baru bagi pelancong.

Pada Sabtu (4/7/2026) sore, musisi legendaris kebanggaan Banyuwangi, Catur Arum, hadir dan sukses "menghipnotis" ribuan pasang mata yang memadati area wisata. Membawakan deretan tembang hitsnya, sang maestro berhasil membawa atmosfer magis yang membuat ribuan penonton larut dalam nostalgia hingga kompak bernyanyi bersama (sing-along) di bawah langit senja.

Terletak di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, destinasi yang berada di ketinggian 450 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini menawarkan sensasi pelesir yang berbeda. Berada di kaki Gunung Ijen, pengunjung disuguhi udara pegunungan yang menusuk kulit, sekaligus bonus pemandangan memukau megahnya Gunung Ijen di satu sisi, dan birunya Selat Bali yang membentang di sisi lainnya.

Daya tarik ini diakui langsung oleh para pengunjung yang datang membawa keluarga.

"Acaranya seru sekali. Saya membawa keluarga ke sini sangat terhibur dengan sajian tradisional, musik, dan juga ada UMKM-nya. Mudah-mudahan terus konsisten memberikan keseruan seperti ini, jadi wisatawan lokal tidak perlu jauh-jauh lagi kalau mau liburan," ujar Rosy Angelina, salah satu pengunjung asal Jajag, Banyuwangi.

Senja di AWT bukan sekadar tempat nongkrong biasa. Program ini merupakan strategi matang Pemkab Banyuwangi untuk mendongkrak ekonomi kerakyatan dengan menggandeng lebih dari 50 pelaku UMKM lokal.

Para pelancong dimanjakan dengan petualangan kuliner yang beragam. Mulai dari makanan autentik khas suku Osing seperti rujak soto dan kesrut, kudapan jadul seperti kue cucur gula merah, hingga deretan menu kekinian yang ramah di kantong generasi muda.

Tak hanya urusan perut, denyut nadi kesenian juga terasa kental di sini. AWT bertransformasi menjadi ruang terbuka bagi para pelaku kesenian lokal.

Sejak pertama kali diluncurkan pada 1 Mei 2026 lalu, antusiasme masyarakat terhadap Senja di AWT terus meroket. Kehadiran legenda hidup seperti Catur Arum membuktikan bahwa kolaborasi antara alam, musik, dan budaya lokal di Banyuwangi selalu berhasil menciptakan harmoni yang magis bagi sektor pariwisatanya.