Kembang Dermo: Bunga Pembawa Berkah Ritual Seblang Olehsari
Ritual Seblang Olehsari terletak di Kecamatan Glagah, Banyuwangi merupakan salah satu tradisi adat suku Osing di Banyuwangi, dikenal memiliki kekuatan magis yang diyakini mampu menjauhkan malapetaka dan wabah penyakit atau pagebluk. Dalam rangkaian prosesi sakral ini, terdapat tradisi unik bernama "Adol Kembang", yang berarti menjual bunga.
Bunga yang dijual dikenal dengan sebutan Kembang Dermo, sebuah rangkaian bunga khas yang terdiri dari dua kuntum bunga Kenanga berwarna kuning dan hijau, serta bunga Kantil (Cempaka Putih) yang terletak di bagian tengah. Rangkaian bunga ini ditancapkan pada sebilah bambu dan dipercaya membawa berbagai manfaat, seperti mendatangkan keberuntungan, mempercepat jodoh, serta menolak bala.
Proses perangkaian Kembang Dermo dilakukan di kediaman penari Seblang, menambah nuansa sakral dan kekeluargaan dalam tradisi tersebut. Saat prosesi Adol Kembang, sang penari Seblang bergerak di antara penonton, menawarkan Kembang Dermo kepada mereka yang dianggap beruntung. Setiap tangkai bunga dijual seharga Rp 5.000, atau Rp 10.000 untuk tiga tangkai.
Keberadaan Kembang Dermo sangat terbatas, dengan penjualan harian sekitar 700 tangkai. Jumlah ini meningkat menjadi 1.000 tangkai pada hari penutupan ritual, menjadikannya benda yang sangat diminati oleh masyarakat setempat.
Suidah, mantan penari Seblang periode 2008–2014, mengungkapkan bahwa tradisi Kembang Dermo telah ada sejak awal pelaksanaan Seblang.
"Kembang Dermo ini juga dipercaya mempunyai banyak manfaat seperti menjauhkan dari mara bahaya, mendatangkan rezeki, dan jodoh. Namun kita harus tetap percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, ini hanyalah sebagai perantara saja," ujar Suidah.
Selain menjadi bagian dari ritual Seblang Olehsari, Kembang Dermo juga berfungsi sebagai simbol harapan dan keberkahan bagi masyarakat yang mempercayainya. Tradisi ini sekaligus melestarikan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal suku Osing, yang terus hidup hingga kini.
Keunikan dan kekuatan magis dari Seblang Olehsari menjadikan ritual ini sebagai warisan budaya tak benda yang tidak hanya membanggakan masyarakat Banyuwangi tetapi juga Indonesia.

