Jarang Terlihat, Kesenian Jaran Paju Gandrung Kembali Tampil di Boyolangu Banyuwangi
Kesenian tradisional khas Banyuwangi, Jaran Paju Gandrung, yang kini sudah sangat jarang terlihat, kembali tampil dalam sebuah hajatan khitanan di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri. Pertunjukan ini menjadi sorotan karena kehadirannya yang langka, di tengah makin berkurangnya kuda yang digunakan untuk Jaran Kencak, yakni kuda yang dilatih untuk bisa menari mengikuti irama musik tradisional Banyuwangi.
Biasanya, hajatan seperti khitanan di wilayah suku Osing Banyuwangi dihibur dengan pertunjukan Jaranan atau Barong. Namun, kali ini tuan rumah memilih untuk menghadirkan Jaran Paju Gandrung, sebuah bentuk hiburan yang kini sangat jarang terlihat.
Rudi Hartono, salah satu pelaku seni Jaran Paju Gandrung, menyampaikan rasa harunya bisa kembali tampil setelah sekian lama kesenian ini tidak dipentaskan. Dulu, ayah Rudi merupakan pelaku kesenian ini, namun karena sudah tiada sekarang diteruskan olehnya.
“Perkembangan zaman membuat kesenian ini semakin terpinggirkan. Dulu kami sering diundang untuk tampil, tapi sekarang hampir tidak pernah. Acara ini menjadi ajang reuni bagi kami para pelaku seni,” ujar Rudi.
Sedikitnya ada 11 ekor kuda yang ikut menari dalam pertunjukan tersebut, beriringan dengan musik khas gandrung yang dimainkan sepanjang hari.
Para penari dan pemilik kuda datang dari berbagai daerah, seperti Kecamatan Genteng, Kecamatan Kabat, Banyuwangi Kota, hingga Kecamatan Kalipuro.
“Kami sangat senang bisa tampil kembali. Ini adalah bagian dari kesenian yang sangat kuno yang harus tetap kita jaga dan lestarikan,” pungkas Rudi.
Masyarakat yang hadir tampak antusias menikmati pertunjukan yang kini semakin langka ini. Harapannya, kehadiran Jaran Paju Gandrung kali ini bisa menjadi awal dari kebangkitan kembali salah satu warisan budaya Banyuwangi.

