Inilah Sosok di Balik Aransemen Musik Banyuwangi Ethno Carnival yang Ikonik
Di balik kemegahan panggung dan ragam busana Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), alunan musik yang mengiringi langkah para peserta menjadi salah satu kekhasan gelaran budaya tersebut. Sosok penting yang berdiri di balik pengolahan komposisi nada tersebut adalah Nanang Ariyanto, seorang keyboardis kelahiran Banyuwangi yang secara konsisten dipercaya menjadi penata musik BEC sejak tahun 2013. Kecintaannya terhadap seni musik telah tumbuh sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar hingga kemudian ia perdalam melalui kursus di salah satu sekolah musik di Banyuwangi yaitu Istana Musik.
Meski kini identik dengan musik etnik, perjalanan karier Nanang sejatinya berawang dari genre musik rock. Titik balik dalam perjalanan bermusiknya baru terjadi pada tahun 2000 ketika seorang rekannya mengajak, bahkan sempat mendesaknya, untuk terlibat dalam proses rekaman lagu daerah Banyuwangi. Pengalaman yang berawal dari keterpaksaan tersebut justru melahirkan kesadaran akan pentingnya peran putra daerah dalam melestarikan lagu daerah Banyuwangi. Salah satu pencapaian berharga yang semakin mengukuhkan rekam jejaknya di kancah musik adalah saat ia berhasil menyabet gelar juara pada ajang Festival Band se-Jawa Bali pada tahun 1996. Reputasinya yang kian solid kemudian mengantarkannya pada kepercayaan besar dari Bupati Samsul Hadi untuk menggarap aransemen lagu "Umbul-Umbul Blambangan".
Dalam perjalanannya menggarap musik BEC dari tahun ke tahun, Nanang mengungkapkan bahwa setiap gelaran selalu membawa tingkat kesulitan dan dinamika yang berbeda. Tema yang diusung setiap tahunnya menuntut ketajaman intuisi serta eksplorasi musikal yang mendalam agar musik pengiring mampu hidup seirama dengan kostum dan narasi yang dibawakan para peraga. "Aransemen musik menyesuaikan tema, jadi tantangan terbesarnya adalah menerjemahkan tema ke dalam berbagai instrumen musik," ujar Nanang (31/07/2026).
Untuk merampungkan seluruh komposisi lagu yang dibutuhkan dalam satu gelaran BEC, Nanang memerlukan waktu selama 1,5 bulan. Proses penataan musik ini diakuinya terbilang cukup rumit dan menuntut ketelitian tinggi, terutama pada tahap memadukan alunan nada dari instrumen tradisional seperti angklung dan saron dengan instrumen modern. "Saya harus menyeimbangkan antara unsur modern dan etnik agar tidak ada unsur yang lebih dominan, karena musik etnik Banyuwangi memiliki ciri khas tersendiri,” tambahnya.
Sebagai seorang musisi yang terlibat aktif dalam mengawal perkembangan seni daerah, Nanang menaruh harapan besar terhadap keberlangsungan panggung megah BEC di masa depan. Ia merindukan agar perhelatan budaya tahunan ini tidak sekadar menjadi ajang tontonan selintas, melainkan tetap konsisten berdiri sebagai wadah kreatif yang inklusif bagi para seniman dan pegiat seni lokal untuk terus berkarya. Lebih dari itu, melalui aransemen musik yang terus diolahnya, ia berharap BEC dapat menjadi sarana diplomasi budaya yang efektif dalam memperkenalkan keindahan serta keunikan musik etnik Banyuwangi ke khalayak nasional maupun internasional.

