Hidupkan Sejarah Perang Bayu, Ratusan Busana Megah Pukau Juri Banyuwangi Ethno Carnival 2026
Tahap penilaian busana untuk ajang bergengsi Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 sukses dilaksanakan pada Selasa (7/7/2026). Bertempat di Gesibu Blambangan, ratusan peraga tampil memukau mengenakan busana etnik modern berdesain artistik. Tahun ini, BEC mengangkat narasi heroisme masyarakat Bumi Blambangan saat menantang kongsi dagang Belanda (VOC) pada abad ke-18 silam.
Mengusung tajuk utama “Perang Bayu, The Great War of Blambangan”, festival ini merajut kembali kisah perjuangan heroik rakyat Blambangan melawan kolonialisme pada medio 1771–1772. Peristiwa bersejarah inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Kabupaten Banyuwangi.
Para dewan juri merupakan orang-prang berpengalaman di bidangnya. Yaitu, Eko Purwanto sebagai detail keseluruhan kostum, Bambang Lukito visual kostum, Syaifuddin Mahfud performing, Vicky Hendri Kurniawan koreografi dan entertainment, Sanet Sabintang kostum designer.
Bambang, bentuk kostum
Vicky, koreo dan perform
Aif, koreo dan perform
Sanet, kostum detail
"BEC bukan sekadar pawai kostum biasa, melainkan sebuah mahakarya seni yang berakar kuat pada kearifan lokal. Konsep dan gagasan yang diangkat setiap tahunnya selalu digali dari seni, budaya, tradisi, sejarah, hingga kekayaan alam lokal. Elemen inilah yang menjadi pembeda utama BEC dengan festival lainnya," ungkap Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, Selasa (7/7/2026).
Puluhan rancangan busana etnik yang unjuk gigi dalam gelaran ini dibagi ke dalam 5 sub-tema spesifik. Setiap sub-tema merepresentasikan lembaran faset perjuangan dalam "Perang Bayu":
Pejuang Blambangan: Menampilkan visualisasi dua sosok sentral dalam pergerakan ini, yakni Rempeg Jogopati dan Sayu Wiwit.
Genderang Perang: Menginterpretasikan barisan persenjataan tradisional yang diandalkan rakyat kala itu, seperti keris, tombak, dan jemparing (panah).
VOC dan Sekutu: Menggambarkan potret pihak penjajah yang menggempur Blambangan, termasuk ekspresi prajurit kompeni dan sistem upeti.
Situs Perang: Memotret lokasi ikonik tempat terjadinya pertempuran dahsyat, di antaranya Rowo Bayu, Teluk Pang-pang, serta Pelabuhan Grajagan.
Hasil Bumi: Mengekspos limpahan kekayaan alam Banyuwangi yang menjadi magnet bagi penjajah, seperti komoditas rempah dan sektor perkebunan.
"Inilah kekayaan narasi lokal Banyuwangi yang tidak akan pernah habis dieksplorasi. Pastinya akan sangat memikat melihat seluruh sub-tema tersebut dikonversikan secara kreatif ke dalam desain busana karnaval," tambah Ipuk.
Sebagai informasi, BEC merupakan bagian dari kalender Banyuwangi Attraction 2026 yang konsisten dihelat sejak 2011. Keberadaannya bahkan rutin masuk dalam daftar bergengsi Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata sejak tahun 2022.
"Apresiasi setinggi-tingginya kami sampaikan kepada para seniman, budayawan, desainer, serta generasi muda Banyuwangi yang terus konsisten merawat kearifan lokal. Berkat kontribusi mereka, khazanah budaya daerah akan selalu hidup dan lestari," tutur Ipuk hangat.
Nantinya, parade akbar ini akan memulai rute dari Taman Blambangan dan berakhir di depan Kantor Pemkab Banyuwangi dengan jarak tempuh sepanjang 2,5 kilometer. Momentum ini diprediksi bakal menyedot atensi ribuan penonton sekaligus membawa dampak ekonomi positif bagi ratusan pelaku UMKM setempat.
Kemeriahan BEC 2026 dipastikan bakal berlangsung semarak selama tiga hari berturut-turut, mulai 17 hingga 19 Juli 2026. Berikut agenda lengkapnya:
Jumat, 17 Juli 2026, Pembukaan Pameran UMKM
Sabtu, 18 Juli 2026, BEC Grand Carnival
Minggu, 19 Juli 2026, BI Run & Awarding BEC

