Gesibu Blambangan Bergetar, Ratusan Penari Ramaikan Festival Sulur Kembang
Gemuruh tabuhan gamelan dan lenggak-lenggok penari cilik hingga remaja kembali mewarnai Gelanggang Seni Budaya (Gesibu) Blambangan. Festival Sulur Kembang ke-6 resmi digelar mulai 7 - 9 Mei 2026, menjadi panggung megah bagi ratusan talenta muda Bumi Blambangan untuk unjuk gigi dalam melestarikan seni tradisi.
Tercatat sebanyak 320 peserta, baik kategori kelompok maupun perorangan, memadati area kompetisi. Para peserta ini datang dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK/PAUD hingga SMA/Sederajat. Semangat mereka menjadi bukti bahwa regenerasi seniman tari di Banyuwangi tetap menyala di tengah gempuran zaman modern.
Nama "Sulur Kembang" sendiri memiliki filosofi mendalam. "Sulur" yang berarti merambat, dan "Kembang" merupakan bunga. Hal ini dimaknai sebagai upaya pelestarian seni tari agar terus tumbuh, menjalar, dan berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Festival ini menjadi wadah agar akar budaya tidak putus di tangan anak muda.
Menariknya, pada penyelenggaraan tahun 2026 ini, panggung festival didominasi oleh nafas artistik Sanggar Lang-Lang Buana. Sekitar 75% dari tarian yang dibawakan merupakan karya maestro tari Sabar Harianto. Meski begitu, ajang ini tetap inklusif dengan menampilkan sentuhan karya dari seniman kenamaan lainnya seperti Subari Sofyan, Adlin Mustika dan Alm. Bapak Sumitro Hadi.
Beragam tarian ikonik dilombakan berdasarkan kategori usia. Untuk tingkat TK/PAUD, para penari mungil menggemaskan membawakan Tari Onclang Kidang dan Tari Meang Meong. Sementara di jenjang SD/MI, persaingan sengit terjadi lewat suguhan Tari Jangkrik, Tari Buk Buk Cung, Tari Gebyar Barong, hingga Tari Dikgar yang penuh energi.
Beranjak ke level yang lebih dewasa, siswa SMP/Sederajat ditantang membawakan Tari Jaripah dan Tari Pulung yang menuntut teknik lebih matang. Sedangkan untuk jenjang SMA/Sederajat, panggung digetarkan oleh keanggunan Tari Lasmi, sebuah tarian yang dikenal memiliki karakteristik kuat dan penuh filosofi.
Ketua Panitia Festival Sulur Kembang, Sabar Harianto, menjelaskan bahwa tahun ini pihaknya mengusung tema "Kembang Seronce". Tema ini merujuk pada rangkaian berbagai karya tari ciptaannya yang dijalin menjadi satu kesatuan harmonis, melambangkan keberagaman gerak yang bersatu dalam sebuah estetika pertunjukan.
"Alhamdulillah kita bisa kembali menggelar Festival Sulur Kembang yang ke-6. Harapan besar kami adalah pelestarian kesenian, khususnya di sektor tari, dapat terus berkelanjutan dan tidak berhenti di sini," ujar Sabar yang juga merupakan Ketua Sanggar Lang-Lang Buana saat ditemui di lokasi acara.
Kemeriahan festival dipastikan akan mencapai puncaknya pada 9 Mei 2026 mendatang. Sebagai penutup yang istimewa, panitia menghadirkan kesenian Janger Khrisna Buana. Pertunjukan ini membawakan lakon bertajuk "Lelakon Urip Kang Legowo Sabar Sabaro" yang memiliki makna mendalam tentang perjalanan hidup. Lakon tersebut merupakan representasi otobiografi dari sosok Sabar Harianto sendiri.
"Jadi di puncak acara, Janger Khrisna Buana membawakan cerita perjalanan hidup saya mulai kecil hingga saat ini yang sudah melahirkan beberapa karya tari. Ini adalah bentuk refleksi sekaligus apresiasi terhadap proses kreatif," pungkas Sabar.

