Festival Kreasi Jodang Watukebo, Perayaan Maulid Nabi dengan Kreativitas dan Kebersamaan
Warga Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, menggelar Festival Kreasi Jodang untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1446 H pada Sabtu siang (21/09/2024). Perayaan kali ini terasa istimewa lantaran Festival Jodang masuk ke dalam agenda Banyuwangi Festival. Acara berlangsung penuh suka cita di Masjid Baiturrahman dan dihadiri oleh ratusan warga.
Jodang merupakan miniatur masjid dengan detail arsitektur yang mengagumkan. Jodang telah lama menjadi simbol kebahagiaan masyarakat Desa Watukebo dalam merayakan bulan kelahiran Nabi. Tahun ini terdapat 23 unit jodang hasil kreasi warga yang ikut memeriahkan perayaan. Dengan diiringi marching band dan musik rebana, warga mengarak jodang–jodang tersebut keliling desa.
Takmir Masjid Baiturrohman, sekaligus ketua panitia, H. Ansori menyampaikan bahwa festival ini merupakan hasil gotong royong seluruh warga Dusun Glondong dan Dusun Gumuk Agung.
“Alhamdulillah, kita dapat berkumpul di hari bahagia ini, bersama-sama melestarikan Jodang yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Kini Jodang dapat dikenal lebih luas karena masuk ke dalam BFast dan ini menjadi kehormatan serta semangat tersendiri bagi warga kami,” ungkapnya.
Bupati Banyuwangi yang hadir dalam kesempatan itu pun memberikan apresiasi tinggi terhadap kerja keras dan semangat wara. Ia berharap festival ini tidak hanya menjadi momen kebersamaan, tetapi juga dapat menjadi destinasi baru bagi wisatawan, mengingat daya tarik budaya dan kreativitas yang ditawarkan.
“Perayaan ini layak masuk ke dalam Banyuwangi Festival karena menyimpan kekayaan tradisi dan kreativitas warga. Ini juga merupakan bentuk keharmonisan di dalam masyarakat yang patut dibanggakan dan terus dijaga mengingat Desa Watukebo didiami oleh masyarakat dari berbagai kultur,” tutur Bupati.
Satu hal yang menarik dalam festival ini adalah keberagaman masyarakat Dusun Watukebo. Di tengah perayaan, terlihat keharmonisan antarumat beragama, termasuk kehadiran para Pecalang dari komunitas Hindu yang turut menjaga keamanan acara. Hal ini menjadi contoh nyata dari toleransi dan kerukunan antar umat beragama yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banyuwangi.
Festival Jodang Watukebo bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kerja sama yang kuat di tengah masyarakat yang heterogen. Dengan segala keindahan dan keragaman yang ditampilkan, festival ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi tradisi yang lebih dikenal di tingkat nasional.

