Endhog-endhogan, Tradisi Unik Banyuwangi Rayakan Maulid Nabi peserta kirab Maulid Nabi Muhammad di Desa Kembiritan
nasional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Banyuwangi

Endhog-endhogan, Tradisi Unik Banyuwangi Rayakan Maulid Nabi

208x Dilihat

Setiap memasuki bulan Rabiul Awwal, kalender Hijriyah, warga Banyuwangi menyambutnya dengan tradisi unik Endhog-endhogan. Tradisi mengarak ribuan telur ini menjadi wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan digelar meriah di berbagai pelosok Banyuwangi untuk memperingati Maulid Nabi.

Dalam tradisi ini, telur rebus dihias dengan bunga kertas dan ditancapkan pada batang pohon pisang yang dihias, yang disebut jodhang. Jodhang-jodhang ini kemudian diarak keliling kampung atau diletakkan di masjid sambil diiringi lantunan selawat, barzanji, zikir, dan doa bersama. Tradisi turun-temurun ini telah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bentuk penghormatan dan cinta kepada Rasulullah.

Salah satu perayaan termeriah terlihat di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, pada Jumat (5/9/2025). Ribuan warga tumpah ruah mengikuti pawai endhog-endhogan sejauh 2,2 km dari Masjid Baiturrahman menuju Kantor Desa Kembiritan. Pawai ini dimeriahkan dengan iringan rebana dan lantunan selawat yang membuat suasana semakin khidmat.

Pawai Endhog-endhogan ini secara resmi dilepas oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Berbagai kreasi atraktif bernuansa Islami ikut memeriahkan pawai, mulai dari replika Ka’bah, perahu tumpeng telur, pohon kurma, hingga unta lengkap dengan penunggangnya. Warga juga membawa plakat berisi nama Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan keluarga beliau, yang menambah semarak acara.

Bupati Ipuk mengapresiasi semangat kebersamaan dan keguyuban warga yang terus menjaga tradisi ini. "Endhog-endhogan ini bukan hanya sekadar festival yang penuh kemeriahan, tetapi juga menjadi wujud cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW," ujarnya. Ia juga berharap semua yang hadir dalam festival ini kelak mendapatkan syafaat Rasulullah SAW.

Salah satu atraksi yang menarik perhatian adalah replika perahu tumpeng raksasa yang berisi sekitar 1.500 hingga 2.000 telur hias. Perahu berukuran 6-7 meter ini adalah hasil gotong royong 30-40 warga Dusun Krajan Dua yang dikerjakan selama seminggu penuh dengan biaya swadaya sekitar Rp7 juta.

Menurut Panitia Festival Endhog-endhogan Kembiritan, Guntur, tradisi tahun ini terasa lebih meriah dibanding sebelumnya. Tercatat ada 221 kreasi dari tujuh dusun di Kembiritan yang ditampilkan. "Alhamdulillah setiap tahun tradisi turun temurun ini selalu bertambah meriah, apalagi Endhog-endhogan Kembiritan ini sudah dua tahun ini masuk dalam kalender Banyuwangi Festival (B-Fest)," kata Guntur yang juga Ketua Takmir Masjid Baiturrahman.

Festival yang diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta ini tidak hanya berhenti pada pawai. Setelah pawai, acara dilanjutkan dengan pembacaan zikir maulid dan pengajian umum di Masjid Baiturrahman. Sebagai bagian dari perayaan, sebelumnya juga sudah dilakukan gerakan membaca 1.000 selawat sejak awal Rabiul Awwal yang jatuh pada 25 Agustus lalu.