BEC dan ITdBI Dongkrak Ekonomi Banyuwangi, Hotel Penuh, Wisata Bergeliat
Dua event besar yang menjadi sorotan dalam Banyuwangi Festival 2025, yaitu Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) dan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), telah berhasil menjadi pendorong utama sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Data terbaru menunjukkan lonjakan signifikan dalam jumlah kunjungan wisatawan, yang berdampak positif pada berbagai sektor bisnis di Banyuwangi.
Menurut rilis data Pariwisata Jasa Akomodasi, jumlah tamu hotel pada Juli 2025 mencapai 76.865 orang, meningkat drastis sebanyak 2.878 orang dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini menegaskan tingginya antusiasme wisatawan untuk hadir dan menikmati kemeriahan dua acara tersebut, yang memang digelar pada bulan Juli.
Lonjakan ini juga tercermin dari Tingkat Penghunian Kamar (TPK) yang mencapai 43,17%. Persentase ini tidak hanya lebih tinggi dari rata-rata TPK Jawa Timur yang hanya 35,27%, tetapi juga melampaui rata-rata nasional sebesar 40,13%. Ini menunjukkan bahwa Banyuwangi menjadi destinasi yang sangat diminati.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa pariwisata telah menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Ia menekankan bahwa event-event besar seperti BEC dan ITdBI bukan sekadar tontonan, melainkan investasi yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan warga. "Hotel penuh, kuliner ramai, transportasi hidup, dan UMKM ikut menikmati dampaknya. Ini bukti nyata bahwa pariwisata memberi kesejahteraan langsung bagi warga," ungkapnya.
Rincian data juga menunjukkan bahwa lonjakan tamu didominasi oleh wisatawan domestik. Dari total tamu, 68.694 orang (89,40%) adalah tamu domestik, sedangkan sisanya 8.171 orang (10,60%) adalah wisatawan mancanegara. Hal ini membuktikan daya tarik Banyuwangi yang kuat di kalangan turis lokal.
Peningkatan TPK tidak hanya terjadi di hotel berbintang, tetapi juga di hotel non-bintang. TPK hotel berbintang naik menjadi 62,98%, sementara TPK hotel non-bintang juga meningkat menjadi 30,31%. Angka ini menunjukkan bahwa dampak positif pariwisata menjangkau seluruh spektrum penginapan, dari yang mewah hingga yang lebih terjangkau.
Meskipun rata-rata lama menginap tamu (RLMT) sedikit menurun menjadi 1,32 hari, namun jika dilihat lebih detail, RLMT di hotel berbintang justru meningkat menjadi 1,36 hari, begitu juga dengan hotel non-bintang yang meningkat menjadi 1,27 hari. Ini mengindikasikan bahwa para tamu yang menginap di bulan Juli cenderung memperpanjang masa tinggalnya untuk menikmati seluruh rangkaian acara.
Keberhasilan ini merupakan hasil dari strategi pemerintah daerah dalam mengintegrasikan pariwisata dengan pemberdayaan ekonomi lokal. Setiap acara dirancang untuk melibatkan pelaku UMKM, seniman, dan komunitas lokal, memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan oleh wisatawan dapat berputar dan dinikmati oleh masyarakat luas.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berkomitmen untuk terus berinovasi dan mengembangkan event-event unggulan yang tidak hanya menarik wisatawan tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan Banyuwangi dalam menjadikan pariwisata sebagai sektor andalan.
Dengan pencapaian ini, Banyuwangi semakin memantapkan posisinya sebagai destinasi wisata terkemuka di Indonesia. Keberhasilan BEC dan ITdBI menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan pariwisata yang tepat dapat menjadi lokomotif penggerak ekonomi yang kuat dan memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

