Apresiasi Penjaga Tradisi, Pemkab Banyuwangi Gelar Program Tali Asih 2026
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap para penjaga api tradisi. Melalui Program Tali Asih, pemkab memberikan apresiasi nyata kepada ratusan insan kreatif yang selama ini konsisten melestarikan nilai-nilai lokal di Bumi Blambangan.
Agenda rutin tahunan ini digelar dengan khidmat di Pelinggihan Prabu Tawang Alun, Kantor Disbudpar Banyuwangi, Kamis (12/3/2026). Suasana hangat menyelimuti pertemuan antara para pemangku kebijakan dengan para seniman, budayawan, hingga penggerak ekonomi kreatif yang menjadi tulang punggung identitas daerah.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi dalam laporannya menyebutkan, sebanyak 100 orang undangan hadir dalam kesempatan tersebut. Para penerima penghargaan ini dikurasi dari berbagai klasifikasi seni dan sektor pariwisata yang dinilai memiliki dedikasi tinggi.
Penerima tali asih ini mencakup spektrum yang luas, mulai dari penari tradisional yang lincah, seniman musik yang menjaga nada-nada khas Osing, praktisi pewayangan, hingga para pelaku seni rupa. Tak ketinggalan, unsur pemberdayaan masyarakat seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) juga turut mendapat jatah apresiasi.
Dalam sambutannya, Plt Kadisbudpar menegaskan bahwa program ini bukan sekadar bantuan formalitas. Lebih dari itu, ini adalah upaya pemerintah untuk memperkuat ekosistem kebudayaan di Banyuwangi agar tetap kokoh di tengah gempuran modernisasi.
"Semoga program ini dapat menjadi semangat dan memupuk kreativitas serta memperdalam pemahaman estetika karya putra-putri daerah," ujar Plt Kadisbudpar saat memberikan sambutan resmi di hadapan para tokoh seni yang hadir.
Stimulus ini diharapkan mampu memicu lahirnya inovasi-inovasi baru dari tangan anak muda Banyuwangi. Pemerintah ingin para seniman terus bereksplorasi menciptakan karya yang relevan dengan zaman namun tetap berpijak kuat pada akar tradisi asli daerah.
Asis Marsuki, seorang penari jaranan asal Kecamatan Glagah yang menjadi salah satu penerima, mengaku sangat bersyukur. Baginya, pengakuan dari negara terhadap profesi seniman tradisional di tingkat desa sangatlah krusial untuk menjaga moralitas dan semangat kerja para penggiat seni.
"Dengan adanya apresiasi ini, saya menjadi lebih semangat untuk terus berkarya dan melestarikan seni jaranan," tegas Asis dengan nada optimis saat ditemui seusai acara pemberian tali asih tersebut.
Senada dengan Asis, Nimas Ajeng Diah, seorang penari Gandrung asal Kecamatan Cluring, memandang program ini sebagai bentuk sinergi yang harmonis. Ia berharap langkah pemkab ini membawa dampak kesejahteraan yang merata. "Semoga ini menjadi berkah bagi semua pelaku seni di Banyuwangi," pungkasnya.

