ITHUK - ITHUKAN

Ithuk - Ithukan merupakan salah satu kearifan lokal Banyuwangi yang menjaga keseimbangan alam. Tradisi adat turun temurun yang merupakan seruan dari leluhur untuk terus menjaga sumber kehidupan "Mata Air". Tradisi yang hidup dan terus di lestarikan oleh Masyarakat Using Banyuwangi Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar Kecamatan Glagah Banyuwangi setiap 12 Zulkaidah.

Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk ungakapan Syukur atas sumber air di desanya yang melimpah dan tidak pernah kering. Mata air yang di kenal dengan nama Sumber Hajar, memberikan sumber kehidupan bagi seluruh Masyarakat Rejopuro. Berkat sumber kehidupan yang melimpah, masyarakat hidup tentram dekat satu sama lain dan saling memaafkan. oleh sebab itu dinamakan Rejopuro, Rejo yang berarti Ramai dan puro yang berarti Sepuro / memafkan.

Ithuk "mbesok bakalan kepethuk" nantinya akan bertemu,yang berarti terus melestarikan tradisi Ithuk-ithukan. kepethuk / thuk lalu menjadi ithuk. ithuk ini menjadi sebutan dari daun pisang yang dibentuk kerucut dengan sebuah lidi untuk membentuknya. Ithuk ini dibuat untuk pembungkus nasi tumpeng dengan bungkusan bungkusan kecil dalam satu tumpeng. Ithuk yang di buat jumlahnya melimpah agar saat prosesi adat berlangsung seluruh masyarakat tidak ada yang kelaparan dan semua terbagi rata. selain ithuk, tumpeng dengan ayam peteteng menjadi satu sajian utama. ayam peteteng adalah satu ekor ayam kampung yang dimasak dengan cara di bakar, ayam peteteng nantinya akan dibuat olahan khas suku using yaitu pecel pithik.

Sebelum tradisi berlangsung keesokan harinya, seluruh msyarakat berkumpul memanjatkan doa untuk leluhur di Masjid setempat. Tradisi Ithuk - ithukan diikuti oleh seluruh warga,yang berkumpul disudut dusun Rejopuro,Desa Kampung Anyar. Setelah seluruh tumpeng berkumpul tetua adat memberangkatkan tumpeng untuk di arak kelilig rejopuro. Tumpeng diarak oleh ibu - ibu dengan cara " disuwun " membawa tumpeng dengan diatas kepala. Tumpeng diarak dan dilakukan selamatan / berdoa bersama di mata air Sumber hajar. Selamatan di pinpin oleh tetua Dusun Rejopuro, Harapannya agar seluruh Masyarakat selamat dan sumber kehidupan terus terjaga dan menjadi penghidupan bagi seluruh Masyarakat desa. Setelah diadakannya ithuk-ithukan masyarakat Rejopuro melaksanakan tradisi membaca lontar atau yang disebut mocoan pada malam harinya.