BARONG IDER BUMI

Barong Ider Bumi adalah agenda tahunan yang rutin diadakan oleh masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Acara ini diadakan dengan swadaya masyarakat dan pemerintah Kabupaten Banyuwangi memasukkan atraksi Barong Ider Bumi sebagai salah satu rangkaian agenda Pariwisata Banyuwangi Festival. Barong adalah semacam kostum dengan topeng dan pernak-pernik sebagai gambaran hewan yang menakutkan. Dalam kepercayaan masyarakat suku Osing, Barong dipercaya sebagai lambang kebaikan yang mempunyai kemampuan untuk mengusir roh-roh jahat. Masyarakat suku Osing percaya jika mengadakan tradisi Barong Ider Bumi, maka kehidupan setahun kedepan akan membahagiakan. Tradisi Budaya ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur pada Yang Kuasa atas Karunia-NYA yang telah memberikan kententraman dan kemakmuran pada warga Desa Kemiren. Selain itu juga suku Osing percaya kalau tradisi ini digunakan untuk menghilangkan bala bencana. Tradisi Barong Ider Bumi dilaksanakan pada dua hari setelah Hari Raya Idul Fitri.

Kata Ider Bumi merupakan penggabungan dari dua kata yaitu Ider dan Bumi. Ider berarti mengelilingi / berkelling, dan Bumi artinya jagat/ tempat berpijak. Ider Bumi mempunyai arti mengelilingi tempat yang dipijak, intinya arti dari Barong Ider Bumi adalah mengarak barong mengelilingi desa. Dalam pelaksanaannya, ada beberapa rombongan yang mengiringi barong saat berkelling desa. Di barisan depan adalah beberapa tokoh adat yang membawa bokor (warga Kemiren menyebutnya Lukiran) yang berisi uang logam Rp.100 berjumlah Rp.99.000 tepat, yang sudah dicampur beras kuning dan bunga sembilan warna. Lalu ada barisan 7 orang nenek yang mengenakan selendang berwarna putih polos dengan corak garis hitam yang disebut Selendang Solok. Saat mengikuti iring-iringan barong, nenek-nenek tersebut sambil nginang/nyusur, dengan mengunyah daun sirih bercampur kapur gamping yang biasa dilakukan dalam masyarakat sejak dulu untuk menjaga keawetan gigi. Sebelum barong diarak keliling Desa, para sesepuh memainkan angklung di Balai desa untuk memulai ritual. Setelah itu, seluruh warga Desa Kemiren keluar rumah lalu mulai berbaris mengajak barong Osing yang diawali dari pusaran (gerbang masuk) desa ke arah barat menuju tempat.